Showing posts with label BUMN. Show all posts
Showing posts with label BUMN. Show all posts

PT PAL Kirim Kapal Perang Pesanan Filipina

BRP 602 Davao Del Sur [Gombaljaya]

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dijadwalkan memberangkatkan ekspor kapal perang kedua buatan PT PAL Indonesia ke Manila, Filipina, Selasa (2/5) di Dermaga Sisi Timur, Divisi Kapal Niaga, Ujung Surabaya.

Manajer Humas PT PAL Indonesia Bayu Witjaksono mengatakan pemberangkatan awal dijadwalkan pada pertengahan April 2017, namun karena menyesuaikan jadwal sejumlah pejabat diputuskan pada awal Mei 2017.

Meski demikian, kata Bayu, PT PAL Indonesia masih memenuhi unsur ketepatan waktu pengiriman, sebab batas waktu pengiriman kapal pesanan angkatan laut Filipina tersebut masih bulan Juni 2017.

"Ketepatan waktu pengerjaan dan pengiriman menjadi catatan tersendiri dan merupakan nilai tambah yang ditawarkan PT PAL Indonesia kepada negara pemesan," katanya, Sebub (1/5).

Ia mengatakan, selain dihadiri Menhan Ryamizard Ryacudu pemberangkatan juga akan dihadiri wakil menteri pertahanan Filipina beserta jajaran pejabat angkatan laut negara tersebut.

Sebelumnya, Filipina memesan dua unit kapal perang "Landing Platform Dock" (LPD) jenis "Strategic Sealift Vessel" (SSV) yang dilengkapi persenjataan canggih dan pendaratan tiga helikopter ditambah fasilitas hanggar.

SSV-2 memiliki kemampuan mengangkut 2 unit kapal "landing craft utility" (LCU) ditambah berbagai macam kendaraan tempur dari truk militer hingga Amphibious Assault Vehicle (AAV).

Dengan memiliki draft kapal 5 meter, pesanan kedua kapal perang ini mampu menjangkau hingga ke perairan dangkal serta dapat difungsikan sebagai rumah sakit apung dan SAR ketika sedang terjadi bencana.

Kapal perang pesanan kedua ini dinamai "Davao Del Sur" yang diambil dari nama provinsi kelahiran Presiden Filipina Rodrigo Duterte, sedangkan kapal pertama dinamai 'Tarlac' yang merupakan provinsi kelahiran Presiden Filipina sebelumnya Benigno Simeon Aquino.

Secara umum, penyelesaian kapal bernomor lambung 602 tersebut lebih cepat dibandingkan proses pesanan pertama yang membutuhkan waktu sekitar dua tahun.

Pesanan pertama diluncurkan 18 Januari 2016 dan tiba di Manila pada Jumat 13 Mei 2016 pukul 22.30 waktu setempat atau tepat batas waktu pengiriman, sedangkan kapal pesanan kedua dijadwalkan akan tiba di Manila pada Senin 8 Mei 2017.

  Kontan  

MMWT Pindad Akan Menggantikan Tank Lama TNI AD

[FNSS/Bordobel]

PT Pindad terus menggenjot produk andalannya untuk memperluas ekspansi bisnis pertahanan. Direktur Utama PT Pindad, Abraham Mose mengungkapkan, target capaian Pindad tahun 2017 ini mencapai Rp. 3,9 triliun. Dengan target yang cukup besar tersebut, pihaknya semakin mengukur kualitas kemampuan produksi terutama untuk produk andalan yang diminati konsumen.

Kami akan terus meningkatkan produksi produk andalan kami seperti senjata SS2, kendaraan tempur, pistol combat, bahan peledak, hingga peralatan industrian,” ungkap Abraham di sela-sela perayaan HUT Pindad ke-34 mengusung tema ‘Membangun Pindad Incorporated Unggul’.

Lebih lanjut dia menerangkan pihaknya menyiapkan langkah khusus, sesuai arahan Presiden Jokowi, agar tidak hanya melihat pasar dalam negeri saja, namun juga melakukan ekspansi ke luar negeri. Terlebih, kata Abraham, permintaan asing terhadap senjata dan kendaraan buatan Pindad terus meningkat.

Menurutnya, selama ini produk Pindad dipakai oleh TNI sebanyak 70%, sedangkan sisanya merupakan produk industrial yang dipesan oleh asing. Dia mencontohkan misalkan saja memperluas ekspansi bisnisnya dalam produk industrial seperti pembuatan alat berat excavator. Hal itu sejalan dengan rencana pembangunan bisnis non alutsista pada 2017-2021 yang menitik beratkan pada ekspoitasi bisnis non alutsista, inovasi dengan teknologi mutakhir serta menjadi pemain global.

Dia pun menambahkan terus memantau besaran persentase dari pertumbuhan produk industrial dan hankam serta tantangan apa yang akan dihadapi oleh Pindad ke depan, khususnya dalam produk industrial. Abraham menyebutkan, jika pertumbuhannya spred the wing, hal ini tumbuh menjadi 40%. Namun bukan berarti bisnis pertahanan menjadi turun justru, tapi sebaliknya industri pertahanan juga harus naik. “Bicara (produk) industrial harus tumbuh sebesar 40-50%,” tegas Abraham.

Lebih jauh Dia menambahkan, berbicara mengenai excavator, maka hal ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi perusahaan. Pasalnya, jangan sampai perusahaan hanya bisa membuat namun tidak bisa menjual. “Kita lakukan terobosan di industrial agar bisa menjual produk ini, apalagi di tahun ini kontrak baru sudah ada lagi sehingga mudah- mudahan bisa lebih besar lagi,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Staf TNI AD (KSAD) Jenderal TNI Mulyono, yang turut hadir dalam acara tersebut, menuturkan, pihaknya terus meningkatkan presentase pemakaian produk Pindad. Diakuinya, produk Pindad semakin diberdayakan, lantaran sudah teruji. Hal ini salah satunya dilihat dari seringnya anggota TNI yang memenangkan kejuaraan internasional dengan memakai senjata buatan Pindad ini.

Yang paling kami andalkan rata-rata adalah senjata ringan. Semuanya kami pakai produk Pindad. Tak hanya itu kami juga memakai tank, panser, serta ke depannya kami pun akan mengganti seluruh tank kami dengan tank medium buatan Pindad,” kata Mulyono.

Diakuinya, masih ada produk Pindad yang memang belum bisa dipakai langsung oleh TNI AD. Akan tetapi pihaknya terus berkordinasi, agar mampu mengurangi ketergantungan produk dari luar negeri.

   sindonews  

[Video] Melihat Kapal SSV Pesanan Kedua Filipina

BRP 602 Davao Del Sur [Gombal Jaya]

K
apal SSV ini merupakan kapal hasil inovasi dari produksi Kapal sebelumnya, Kapal Landing Platform Dock (LPD) alih teknologi dengan Korea. 2 unit kapal LPD ini banyak digunakan pada Operasi Militer dan kemanusian tingkat Internasional dan telah diakui kemampuannya, seperti Penyelamat MV Kudus di Somalia dan Pencarian Korban Air Asia QZ 8501.

Kehandalan dan kapabilitas kapal produksi Insan PAL Indonesia melalui hasil inspeksi dan pengecekan kualitas yang ketat dari Tim Kualitas dan Tim Klas Llyod Register serta Tim Representasi Pemilik Kapal.

Disampaikan oleh Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryaccudu, Indonesia patut berbangga karena pelepasan SSV #2 merupakan momen bersejarah bagi kedua negara. Hubungan antar kedua negara selama ini telah terjalin secara baik berdasarkan rasa saling percaya. Kepercayaan ini diwujudkan Filipina dengan menunjuk PT PAL dalam pembuatan kapal perang. Sekaligus membantu perekonomian negara. [Bisnis Surabaya]

 Berikut Video liputan NETtv & Antaranews : 


  Youtube  

Delegasi JSC Kementerian Pertahanan Jepang Kunjungi Pindad

imagePT Pindad (Persero) menerima kunjungan dari 30 orang delegasi Join Staff College (JSC) of The Japan Ministry of Defence (JMOD) pada 7 Juni 2017. Delegasi dipimpin oleh Wakil Komandan JSC JMOD Mayor Jendral Yukiya Yamakura, dan diterima oleh GM Kendaraan Khusus, Agus Edy.

Dalam sambutannya Yukiya Yamakura mengatakan kunjungannya ke Pindad merupakan yang pertama kali, dan pihaknya tertarik dengan yang telah dilakukan oleh Pindad. "Ini pertama kalinya kami datang ke perusahaan ini, saya sangat tertarik kepada Pindad, industri pertahanan yang dimiliki pemerintah Indoneisa, di Jepang belum ada indhan yang dimiliki pemerintah" ujarnya.

Menanggapi hal itu, Agus Edy menyambut baik para delegasi. Ada tiga hal yang disampaikan berkenaan dengan industri militer di Pindad. Menurut Agus ada tiga hal terkait perkembangan pindad hingga saat ini, pertama transfer teknologi (ToT), kedua, partner Pindad bukan hanya dari Indonesia saja tetapi juga luar negeri, ketiga, pindad terus berupaya mendukung pengembangan produk.

Agus menambahkan, selain memproduksi alat-alat pertahanan, Pindad juga bergerak di bidang produk komersial. Produk pertahanan memiliki fokus mendukung pemerintah melalui TNI dan POLRI, sementara komersial produk ditujukan untuk bisnis.

Kunjungan ditutup dengan mengunjungi ke fasilitas produksi PT Pindad (Persero) seperti Divisi Senjata dan Divisi Kendaraan Khusus.

  BUMN  

Penampakan Kereta Lebaran

Made in Madiun[Dok. PT INKA]

PT Industri Kereta Api (INKA) akan mengirim 6 rangkaian kereta ke PT Kereta Api Indonesia (KAI). Sebanyak 6 rangkaian kereta buatan INKA akan digunakan sebagai angkutan tambahan saat mudik lebaran.

Kereta itu merupakan jenis ekonomi premium. Kenapa ekonomi premium? Karena walaupun termasuk dalam kelas ekonomi tapi kereta itu memiliki berbagai fasilitas kelas eksekutif.

Keren, Begini Penampakan Kereta Lebaran <i>Made in</i> Madiun

Mulai dari pendingin udara, televisi, hingga kursi yang bisa diatur kenyamanannya. Dilengkapi pula dengan toilet yang bersih dan nyaman.
Keren, Begini Penampakan Kereta Lebaran <i>Made in</i> Madiun

"Interior kereta lebih dipercantik dengan penggunaan alumunium extruction pada Center Ceiling dan bagasi atas. Ini merupakan kereta ekonomi serasa eksekutif," ungkap Senior Manager Humas Protokoler dan PKBL PT INKA, Cholik Mochamad, kepada detikFinance, Jakarta, Senin (29/5/2017).
Keren, Begini Penampakan Kereta Lebaran <i>Made in</i> Madiun

Kereta Lebaran ini berkelir putih dengan sentuhan kombinasi garis merah dan oranye di bagian luarnya. Tampak luar, model kereta itu memiliki gaya yang minimalis sekaligus menimbulkan efek modern.
Keren, Begini Penampakan Kereta Lebaran <i>Made in</i> Madiun

Dari 6 rangkaian kereta api yang diproduksi INKA, masing-masing rangkaian memiliki 11 gerbong. Sehingga totalnya akan berjumlah 66 gerbong. Setiap gerbong berkapasitas 80 penumpang. (hns/wdl)
   detik  

Kereta Made In Madiun Laris

Diborong Bangladesh Hingga AustraliaGerbong kereta pesanan Bangladesh

Deretan produk kereta buatan PT Industri Kereta Api (INKA) tembus pasar internasional. Kereta buatan INKA laris dibeli sejumlah negara, mulai dari Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, hingga ke negara kanguru yakni Australia.

Tak hanya itu, INKA juga sedang menjajaki pasar sejumlah negara di benua Afrika.

"Kami sudah ke Filipina, Thailand, Malaysia, Singapura, Australia, dan sudah ke Banglades. Dalam waktu dekat kami menembak pasar ke Tanzania, Senegal. Delegasi kami sudah ke sana, dan delegasi mereka sudah ke sini untuk tindak lanjut yang lebih intens," kata Senior Manager Humas Protokoler dan PKBL PT INKA, Cholik Mochamad, kepada detikFinance, Jakarta, Senin (29/5/2017).

Menurut Cholik, negara-negara tersebut memesan produk kereta yang berbeda-beda dari INKA. Tergantung kebutuhan masing-masing negara.

Jumlah pesanan juga tak hanya satu dua unit saja, tapi hingga ratusan unit. Contohnya Bangladesh yang tahun lalu memesan kereta penumpang INKA hingga lebih dari 200 unit.

Kereta Pesanan BangladeshGerbong kereta pesanan Bangladesh [istimewa]

Tahun ini, INKA juga kembali mengikuti tender di Bangladesh sebanyak 250 unit, dan telah memenangkan 50 unit. Selain Bangladesh, masih ada beberapa negara yang sudah memakai produk racikan INKA.

"Kalau untuk gerbong yang banyak dipesan itu sama Thailand, mereka kita kirim gerbong untuk pemecah batu, tahun lalu mereka pesan 200 gerbong. Filipina baru (pesan) lokomotif, Malaysia kereta pembangkit dan penumpang," terang Cholik.

Flat Car Pesanan AustraliaFlat Car pesanan Australia [Dok. PT INKA]

Selain kereta penumpang, INKA juga menerima pesanan kereta jenis Flat car atau yang biasa digunakan untuk mengangkut barang atau alat berat. Negara yang memesan flat car INKA adalah Singapura dan Australia.

"Singapura (type) well wagon 5 unit dan flat wagon 15 unit tahun 2011-2012. Australia itu Flat car 500 unit tahun 2004-2005," jelasnya.

INKA juga mulai membidik pasar Afrika, salah satunya Ethiopia. BUMN produsen kereta yang bermarkas di Madiun, Jawa Timur itu, sudah mengirim tim menjajaki pasar Ethiopia.

Sebaliknya, pihak Ethiopia juga sudah menyambangi INKA membahas rencana kerja sama pengadaan kereta api.

"Delegasi kami sudah ke sana, dan delegasi mereka sudah ke sini untuk tindak lanjut yang lebih intens. Di Ethiopia sendiri sekarang masih penjajakan juga, kita masih coba tender, itu kira-ratusan," kata Cholik.

Menurut Cholik, perseroan melihat banyak peluang besar masuk ke pasar Afrika, khususnya Ethiopia. Pasalnya, pasar Afrika belum banyak dilirik pelaku industri kereta.

"Kami melihat pangsa pasar Afrika juga masih terbuka lebar, masih luas. Pemainnya pun masih beberapa. Chance INKA untuk menang masih terbuka lebar, daripada kami main tender di Eropa, atau Jepang. Itu yang bisa mengukur kemampuan kami," tutur Cholik.

Dia menambahkan, selain Ethiopia, saat ini INKA juga menjajaki pasar negara Afrika lainnya, yaitu Tanzania dan Senegal.

"Dalam waktu dekat kami menembak pasar ke Tanzania, Senegal," ujar Cholik.

 Incar Pasar Baru 
Flat Car Pesanan AustraliaFlat Car pesanan Australia [Dok. PT INKA]

Cholik mengatakan, INKA menyasar negara-negara berkembang karena melihat potensi yang besar di wilayah tersebut.

"Jadi memang arah kami ke sana, karena perusahaan-perusahaan kelas dunia tidak akan merambah ke pasar sana. Sehingga pasar ini, pasar yang masih terbuka lebar. Sehingga belum ada yang masuk, nah di situ kita masuki," ungkap Cholik.

Walau tak banyak pemain di kawasan Asia dan Afrika itu, bukan berarti INKA tak punya pesaing. Dua Negara yang jadi kompetitor INKA adalah China dan India.

Meski dibayang-bayangi kompetitor, INKA yakin produk kereta buatan Madiun tetap diminati pasar. Salah satunya karena INKA memiliki layanan purna jual hingga ke negara pemesan.

Contohnya di Bangladesh, INKA menempatkan personel layanan purna jual di negara tersebut. (hns/wdl)

   detik  

Ekspansi Pasar Terhambat Regulasi

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiO8URZnabqbIIuv4otQkdc8XebS1B6-Ww5OQnRN8mw0th0fOyMaf5N7zm0mHwQyZo5bv8yfTppanbiFPvE71gP0KRCZaASGFyYl2CpYIHbUrFgDfa9KzH8Od1z_5eZ2byhOwSjRUubRtiW/s1600/2058574_20160112010832SSX+supermarine.jpgPrototipe SSX [supermarine]

PT Pindad
terus berinovasi dan menggenjot produk andalannya untuk memperluas ekspansi bisnis pertahanan. Direktur Utama PT Pindad, Abraham Mose mengatakan, target capaian Pindad pada 2017 hingga Rp 3,9 triliun. Dengan target yang cukup besar tersebut, perusahaan yang ia pimpin terus meningkatkan kualitas dan kemampuan produksi, terutama untuk produk andalan yang diminati konsumen.

Pria kelahiran Gorontalo, 27 Juli 1961 ini menuturkan, sesuai arahan Presiden Joko Widodo, Pindad akan melebarkan sayap bisnisnya ke luar negeri. Menurut dia, permintaan asing terhadap senjata dan kendaraan buatan Pindad terus meningkat. Selain alat utama sistem persenjataan (alutsista), Pindad juga memproduksi non-alutsista seperti eskavator, traktor, dan sejumlah produk nonalutsista lain.

Kepada VIVA.co.id, mantan dirut LEN ini mengatakan, sebagian besar produk Pindad digunakan oleh TNI. Menurut dia, sekitar 70 persen produk Pindad untuk memenuhi kebutuhan TNI. Sementara itu, sisanya merupakan pesanan asing atau untuk kebutuhan ekspor.

Namun, lulusan Magister Manajemen Universitas Padjadjaran, Bandung, ini mengaku masih mengalami sejumlah kendala terkait ekspansi bisnis. Salah satunya karena tidak adanya industri hulu. Juga regulasi yang dinilai masih menghambat ekspansi bisnis perusahaan ini ke luar negeri.

pistol-g2-premium-pindadG2 Premium PT Pindad [Pindad]

Untuk memperdalam kiprah Pindad itu, VIVA.co.id berkesempatan mewawancarai Abraham Mose. Wawancara dilakukan di ruang kerja pria jebolan Teknik Elektro Universitas Hasanuddin, Makassar ini di kompleks Pindad, Bandung. Berikut petikannya:

Sejak Agustus 2016 Anda ditunjuk menjadi dirut Pindad. Apa pendapat Anda dengan perusahaan ini?

Menurut saya potensi Pindad sangat besar.

Maksudnya?

Kalau kita bicara industri pertahanan, apakah senjata, pistol, amunisi, sampai ke produk-produk industrial dan kemampuan sumber daya manusia serta kemampuan mesin yang dimiliki Pindad itu sangat mumpuni.

Terkait alutsista, apa saja yang sudah dihasilkan?

Saya masuk Pindad, sudah ada tujuh varian produk senjata yang dihasilkan, mulai dari pistol, G2 combat. Kemudian submesin gun, SS2 V7 juga ada sniper. Menurut saya ini produk-produk unggulan Pindad dan permintaan sudah cukup banyak.

Permintaan?

Iya. Permintaan bukan hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri.

Dooper Weapons and Ammunition of PT Pindad.Dopper PT Pindad [Angkasa]

Apakah ada produk baru?

Tahun ini kami akan launching produk yang sudah cukup lama. Dari tahun kemarin kami lakukan penelitian dan pengembangan yaitu senapan serbu bawah air dan Dopper untuk latihan. Selain itu untuk program nasional kita sebut saja medium tank.

Medium tank?

Iya. Dan ini yang pertama sekali, Indonesia membuat tank yang utuh dan itu dilakukan di Pindad.

Kapan akan diluncurkan?

Rencananya akan kami tampilkan pada acara parade 5 Oktober nanti HUT TNI.

Selain itu?

Kami juga punya produk baru anti ranjau yang disebut sanca. Itu hasil kerja sama dengan luar negeri. Kemudian kami juga punya satu produk unggulan yang kami sebut tank boat. Tank boat ini bisa kami pakai untuk menjaga perairan-perairan atau sungai di Indonesia.

Apa kelebihan tank boat ini?

Dia bisa bermanuver di kedalaman 90 sentimeter dan kami lengkapi dengan senjata.

Selain medium tank dan tank boat?

Kami sudah punya Badak, kami punya Ampibius Anoa yang kemarin dalam rapim TNI, Bapak Presiden menyempatkan naik bersama panglima TNI.

Medium tank, Anoa dan kendaraan taktis lainnya semuanya hasil karya anak bangsa?

Iya, hasil karya anak bangsa, termasuk Komodo juga.

Tidak ada yang kerja sama dengan luar negeri?

Awalnya ada beberapa yang kerja sama dengan luar negeri, tetapi sekarang kami sudah bisa membuat sendiri.

Produk Pindad hanya untuk konsumsi dalam negeri atau untuk ekspor juga?

Saat ini kami persiapkan minimum essential force yang diperlukan dalam negeri. Tetapi bukan berarti kami menutup dari permintaan-permintaan luar negeri atau ekspor ke negara lain.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg_in7BbjIHzZ2Ec8hhhLt_NRtr8AYdWDvKFDLeaYip8T_ipHDa2aQJxgPoYNcHOejOwQjiiO8t5RYUriutIA4E3Bi8KxsWveCU6_cExJjYHqFaJgqGZr7wlW0Jps3-grqDkGYJ6p36TjgZ/s400/Eskavator+Pindad+Ikut+Bangun+Kereta+Cepat+Jakarta+Bandung1.jpgExcavator Pindad [Pindad]

Artinya ada yang diekspor?

Ada. Misalnya permintaan Anoa Gurun dari salah satu negara di Timur Tengah yang sekarang masih dalam tahap negosiasi. Begitu juga dengan amunisi, dengan senjata kami masih dalam tahapan-tahapan negosiasi.

Berapa persen produk Pindad yang diekspor?

Posisi sekarang masih 80-20 persen. Tetapi tahun ini meningkat menjadi 70-30 persen. 70 persen untuk kebutuhan dalam negeri, 30 persennya kami coba ekspor.

Diekspor ke negara mana saja?

Kalau bicara militer kami tidak bisa buka-bukaan semuanya. Karena agak sensitif kalau negara-negara itu kami sebut.

Produk apa saja yang diekspor?

Amunisi, kemudian senjata, pistol, dan bom, termasuk panser.

Pemerintah meminta Pindad untuk melakukan inovasi. Tanggapan Anda?

Arahan Bapak Wapres waktu saya diundang, beliau memang meminta agar kami melakukan ekspansi bisnis.

Lalu, apa tindak lanjut dari arahan Wapres?

Melakukan joint operation. Sudah beberapa penawaran, bahkan sudah ada beberapa agreement partnership yang sudah kami teken, dan sekarang masuk ke dalam tahapan implementation agreement, untuk membuat amunisi kaliber 556 dan kaliber 762 MM, MKB mulai dari 20, 30, 105, 155. Selain itu, akan ada investor untuk ikut membangun fasilitas produksi amunisi kaliber kecil kami dan amunisi kaliber besar.

Apakah kerja sama dengan luar negeri dibolehkan?

Di Undang Undang Industri Pertahanan, kami belum boleh melakukan joint venture. Tetapi kalau joint marketing, joint production itu bisa. Ini salah satu strategi kami untuk melakukan strategic partnership guna mengimplementasikan arahan dari Bapak Presiden dan Bapak Wapres untuk menjual produk-produk pertahanan yang diproduksi PT Pindad.

Negara atau lembaga apa saja yang menjalin kerja sama dengan Pindad?

Selama ini kami masih G to G ya, tidak antarlembaga. Jadi kerja sama negara, semuanya negara.

8x8-tata-motor-pindad-1Kerjasama PT Pindad dan Tata Motors [defence.pk]

Kerja sama dengan Tata Motors termasuk G to G?

Tata Motors itu bermula pada kunjungan Bapak Presiden ke India beberapa waktu lalu, ini kami follow up. Kebetulan saya ikut dalam rombongan tersebut, bagaimana kami bisa menjalin kerja sama dengan India. Nah, PT Pindad bekerja sama dengan Tata Motors, ada dua hal yang kami bahas dan lakukan penandatanganan MoU bersama mereka, salah satunya adalah kendaraan komersial dan kendaraan militer.

Kendaraan komersial?

Kendaraan komersial menarik bagi Pindad, karena ternyata sasisnya sama. Mau dipakai di militer, mau dipakai di komersial itu sama, sehingga kami bisa melakukan efisiensi di sisi waktu dan harga. Di komersial kami akan coba masuk di kendaraan truk pengangkut personel. Kemudian kami akan masuk di kendaraan water cannon dengan menggunakan teknologi dari mereka. Jadi itu G to G, hanya saja implementasinya antara PT Pindad dan Tata Motors.

Selain India apakah ada kerja sama dengan negara lain?

Ada kerja sama pengembangan dan ada kerja sama penjualan. Selain dengan India ada juga dengan beberapa negara Timur Tengah. Kemudian negara-negara Asia yang sudah berjalan. Bahkan, ada sejumlah negara baru yang mencoba bekerja sama penjualan, kerja sama produksi, bahkan ikut investasi.

Selain alutsista, Pindad juga memproduksi nonalutsista, bagaimana perkembangannya?

Pindad ini ada dua direktorat, satu Direktorat Bisnis Militer dan Direktorat Industrial. Bisnis di industrial itu ada cor dan tempa untuk peralatan-peralatan rel kereta api, kemudian untuk divisi Marine di pelabuhan atau kapal kami buat crane, dan alat support kapal lainnya. Kemudian ada bahan peledak juga, tetapi untuk komersial yang kami jual untuk digunakan di lahan tambang, kemudian ada alat berat, eskavator. Kami juga memproduksi alat-alat pertanian juga. Itu semua yang non-military.

Apakah itu semua juga diekspor?

Itu semuanya sekarang masih untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Mulai dari eskavator, traktor, traktor tangan. Kemudian marine itu banyak sekali galangan-galangan kapal yang bekerja sama dengan Pindad. Kereta api yang breaking system itu dari Pindad.

Saat ini lebih banyak mana, yang produk militer atau nonmiliter?

Kalau sekarang masih 70 persen military, 30 persen yang industrial. Tetapi ke depan visi kami adalah melakukan juga penajaman di sisi industrial.

Kenapa?

Karena yang diukur dalam pendapatan di BUMN itu kan minimum pertumbuhan pendapatan 12 persen. Jadi kami memang harus naik pendapatan per tahunnya. Nah, itu dari sisi mana? Sisi military dan maupun dari sisi industrial pastinya. Sehingga tagline Pindad ke depan bagaimana kami bicara membangun incorporated yang unggul. Itu kami sudah bicara Pindad baik dari segi produksi industrial maupun military.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhaPz2hIm3tLXavhX4GPHXekUDUkGF8AnpuLZRPwFm3Ad3tMiX8zUMp5uppBRhNBG8U3FKYOMHzEeUUeeQ5U-OdBOwR9xWGS1l04Q2ZvOtp25l4CCMDD9GzZKJ2njZ452OfoP-12zz7E3sL/s1600/20160602_12.jpgKendaraan militer Pindad [Pindad]

Sejumlah kalangan mengatakan industri pertahanan kita telat. Tanggapan Anda?

Industri pertahanan tidak bisa berbuat banyak kalau kita tidak didukung dengan industri hulu. Bagaimana mengubah raw material itu menjadi komponen jadi yang siap mendukung industri, misalnya pelat baja, pelat besi, kemudian bahan pendukung pembuat amunisi, itu kan semuanya kita masih impor.

Ini yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh pemerintah, yakni kebijakan untuk membangun industri hulu di Indonesia. Sehingga komponen-komponen siap pakai untuk mendukung industri itu bisa dipakai atau gunakan sendiri, sehingga tidak perlu impor.

Kenapa?

Kalau kami impor, butuh waktu sekitar enam bulan sampai delapan bulan. Kalau kontrak kami cuma satu tahun, kami cuma mempunyai waktu untuk kerja itu cuma dua bulan. Jadi bagaimana bisa memenuhi kontrak dalam setahun? Solusinya apa kalau kita tidak punya industri hulu? Artinya kita harus membuat kontrak multiyears, dua tahun atau tiga tahun. Dan kontrak multiyears juga harus membutuhkan jaminan dari pemerintah untuk membeli produk kami.

Solusinya?

Ada yang namanya Komite Kebijakan Industri Pertahanan yang sudah sangat jelas kebijakannya. Pertama kalau produk-produk itu belum sanggup dibuat di dalam negeri, atau menjadi sangat urgent untuk diadakan di dalam negeri, maka tentunya itu pembelian dari luar. Tapi kalau sudah sanggup diproduksi dari dalam negeri, wajib menggunakan produk dalam negeri.

Bagaimana kalau belum sanggup diproduksi di dalam negeri?

Joint operation atau apa pun bentuk kerja samanya harus ada transfer knowledge agar industri dalam negeri bisa memproduksi peralatan sendiri.

Selain tidak adanya industri hulu apa lagi yang menjadi kendala?

Kalau bicara kemandirian kita harus berbicara sumber daya. Sumber daya manusia, dan sumber daya ketersediaan infrastruktur kita sudah punya. Kemampuan SDM, engineering kita sudah tidak diragukan lagi. Sekolahnya juga banyak lulusan dari luar. Sudah terbukti kita bisa membuat pistol yang 11 kali juara dunia, bisa bikin Panser, bikin Panser Ampibius.

Tetapi sekarang bagaimana kita bisa menjual produk-produk ini. Selama undang-undang industri pertahanan kita masih sangat rigit, tidak memperbolehkan kita melakukan join venture dengan negara-negara lain akan sulit.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEisYpmsbCDbTUdQksIAWqzNo0oNfew6GZ-h29tXrtKpG4d2PAbAJVp55FRG-VuWC_wQAzr50SfVCkJmCbjE8PY3V-8PBwDlbYOe-5x0f40P0X2Y2uCtES3EWdybJ9LLBYxLQkNIBI88ehRO/s1600/mmwt.jpgKaplan MT [FNSS]

Artinya selama ini ekspansi pasar terkendala regulasi?

Ya. Salah satunya adalah regulasi itu, undang-undang industri pertahanan.

Selain regulasi, apa lagi yang jadi kendala Pindad dalam melakukan ekspansi pasar?

Kita tidak memiliki industri hulu.

Apakah ada target pendapatan?

Kebijakan Kementerian BUMN kami harus tumbuh minimum pendapatan di atas 12 persen tahun ini.

Bagaimana cara Anda mencapai target itu?

Kalau kami terlalu mengandalkan industri pertahanan tentunya ada keterbatasan untuk mencapainya. Sayang dengan mesin yang ada, kemampuan sumber daya manusia yang kami punya, kalau terjadi idol capacity. Sehingga kami buat produk-produk industrial. Ini adalah strategi kami supaya perusahaan secara korporasi bisa tumbuh pendapatannya.

Apa target Anda selama memimpin Pindad?

Kalau bicara Pindad goal, utamanya adalah bagaimana bisa menjadi partner pemerintah. Kalau konteks Pindad ini salah satu contohnya adalah bagaimana menjadi tulang punggung di industri pertahanan. Visi utamanya adalah bagaimana Pindad bisa memenuhi kebutuhan pertahanan dalam negeri.

Apa harapan Anda kepada pemerintah?

Saya pikir tinggal masalah konsistensi. Karena kalau kami melihat arahan pimpinan tertinggi kita Bapak Presiden, Bapak Wapres, panglima TNI, sudah sangat kuat untuk memajukan industri pertahanan dalam negeri. Tinggal konsistensi saja. Kalau konsistensi itu kami bicara semuanya, ya keuangan dan kebijakan.

  ★ VIVAnews  

PT DI Kerjasama Dengan TAI

Pengembangan Pesawat dan Drone Pada perhelatan International Defence Industry Fair (IDEF) 2017 yang diselenggarakan pada tanggal 9-12 Mei 2017 di Istanbul, Turkey, Direktur Utama PTDI, Budi Santoso menandatangani MoU dengan CEO Turkish Aerospace Industries, Inc (TAI), PhD. Temel KOTÌL.

MoU antara TAI dengan PTDI diantaranya :

★ Peningkatan avionik dan sayap untuk pesawat-pesawat CN235.
★ Pengembangan, sertifikasi dan produksi bersama pesawat N245.
★ Global supply chain untuk komponen CN235
★ Pengembangan bersama untuk pesawat tanpa awak kelas Medium Altitude Long Endurance (MALE).

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEisr04DJfNhg93QJhVANORL4Yh4ohmwDZIskFmScdE5_TKqdg8vOXyvzCtFFJnE5dCTLVUpxDBq3vW-f2y_WTgUx3pdeiJ6UZmO0P9xyUb74YZbSG4SbDYxCQxzcSL0HYxrnOoL-wicRCE/s1600/armed-turkish-anka.jpg

Drone serang ANKA TAI [Aviation Analysis Wing]
  BUMN  

PAL Proses SSV Pesanan Filipina

Sebanyak 2 unit tambahanhttp://i8.photobucket.com/albums/a5/flipzi/defense/13245253_236951513335414_5011456742895856880_n_zpsypgohrjg.jpgBRP 601 Tarlac [defense arab] ★

I
ndonesia melalui BUMN, yaitu PT PAL Indonesia (Persero) telah mengirim kapal perang jenis Strategic Sealift Vessel (SSV) kedua ke angkatan militer Filipina. Kapal itu dinamakan BRP Davao Del Sur LD 602.

Deputi Bidang Usaha Pertambangan,‎ Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengungkapkan, pesanan kapal dari Filipina tidak berhenti di situ. Harry mengaku Indonesia masih memproses pembuatan kapal pesanan Filipina ke 3 dan ke 4 dengan tipe yang berbeda.

Sudah ada pembicaraan dengan Filipina, rencana ada SSV 3 dan SSV 4,” tegas Harry saat berbincang dengan wartawan di kantornya, Selasa (9/5/2017).

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjsjKWv-0bSeBW7rN6JAP9QTcyH_1zYbWMqKtOghiX0B3d4QPlw2_tEM7YICT-5J9QgC8ZugCZge0SURBLJmL4wRf7ONtJaqLxQWhEg6d8Akt0H5CNIdbZ7aM7YUfSR-uQSDh2hfTpvEXMK/s1600/brp-davao-del-sur+update.ph.jpgBRP 602 Davao Del Sur [update.ph]

‎Dijelaskannya, meski dua kapal yang dipesan itu memiliki tipe yang sama, namun Militer Filipina menginginkan memiliki fungsi khusus. Satu sebagai kapal yang berfungsi sebagai rumah sakit, dan satu sebagai markas pasukan.

Dalam kapal rumah sakit ini, nantinya dijadikan cover kesehatan bagi para pasukannya yang tengah melakukan operasi di daerah-daerah pertempuran.‎ Di dalamnya akan ada laboratorium hingga ruang perawatan.

Sementara untuk kapal markas pasukan, nantinya akan digunakan militer Filipina dalam memberantas perompak-perompak di perairannya.

‎Nanti juga dilengkapi dengan senjata. ‎Filipina ini negara kepulauan seperti Indonesia, sehingga pemberontak-pemberontak akan dimasukkan ke kapal, sehingga tidak perlu turun ke darat. Nah SSV ini cocok,” papar Harry.

  Liputan 6  

Produk Strategis BUMN

Dari Helikopter Hingga Kapal Siluman https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjexQ5EdsNLUaFLR_ZT6fXV5NBxBzpsC7Mu5g4d3vO5LVhWuKqSm7QVot0vm3ZN8acfTVkQvoFX5_mU4pDxVHP3Elim438tLCv8CDLIdd9a1PvWcnI4EQ2BQ5Z49ImgFeMbhBAsunjSYte/s1600/924922d47e1d4b0f8fd139ce9de20d26+Heli+SAR+TNI+AU+%255Bkompas%255D.jpgHelikopter SAR Tempur TNI AU [Kompas]

Produk-produk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) strategis kini mulai banyak ditemui, mulai dari helikopter sampai kapal siluman. Produksi karya anak bangsa ini sempat vakum beberapa tahun lalu.

Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN, Harry Fajar Sampurno, bercerita soal pentingnya produk strategis BUMN.

"Hampir 60-70% kontribusi industri dari BUMN, manufaktur itu hampir seluruhnya BUMN, di luar kita kayanya belum ada. Bikin kapal 120 galangan, yang 4 besar adalah BUMN, sisanya di Batam. Pesawat terbang satu-satunya, dan industri pertahan dan lain-lain," katanya saat berbicang santai di Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (11/4/2017).

Menurutnya, banyak yang tidak tahu besarnya peran BUMN di industri nasional. Supaya makin banyak memberikan kontribusi, BUMN akan didorong untuk bersinergi dengan Kementerian Perindustrian.

https://i0.wp.com/militermeter.com/wp-content/uploads/2016/09/wp-image-1174963853jpg.jpg?fit=700%2C394Tahun 2016, sudah ada perbaikan, kapal-kapal pesanan Kementerian Pertahanan yang mangkrak, ini mulai di-deliver tahun 2016. "Di DKB (Dok Kodja Bahari) dulu itu demo terus, akhirnya direksi kita ganti, yang baru pelan-pelan berhasil," jelasnya.

"Yang membanggakan Di 2016, PT PAL mulai bangkit dengan ekspor kapal perang terbesar, ada dua, satu tahun lalu, kemudian tahun ini itu yang untuk Filipina. Lalu satu lagi kapal dengan teknologi yang canggih dengan teknologi hantu, jadi dia tidak terdeteksi radar, itu namanya Perusak Kawal Rudal (PKR), yang kemarin Jumat diserahkan dari Kemhan ke Angkatan Laut, bulan lalu diserahkan dari PT PAL ke Kemnhan," ujarnya.

Kemudian PT Dirgantara Indonesia (PTDI), kata Harry, di tahun yang sama mulai ekspor ke Filipina, Thailand, Senegal, Malaysia, Turki. Ada juga helikopter baru untuk TNI AU, dan untuk Basarnas.

"Sayangnya semuanya tidak semulus yang kita kira, kita ada permasalahan seperti PT PAL masalah dengan KPK. Kedua Hubungan PTDI dengan TNI AU juga belum bagus, ekspor keluar negeri sudah banyak, yang dalam negeri belum terpakai, masih ada beberapa yang berhenti," katanya.

Ia mengatakan, sejak PTDI ambruk di 1998, pemerintah sama sekali tidak boleh membantu. Sampai 2006 produsen pesawat terbang itu mulai bangkit.

"Kemudian 2006 restrukturisasi dimulai, seperti SDM, keuangan, produksi dan operasional. Untuk keuangan, di BUMN kan ada utang yang di-convert ke equity, PMN dan semua dijalani," ungkapnya. (ang/ang)

  ★ detik