Showing posts with label Bisnis. Show all posts
Showing posts with label Bisnis. Show all posts

Indonesia Mitra Strategis Dengan Kolombia

PT DI Tawarkan Produk ke Kolombia CN235-220M Multi Purpose Aircraft untuk Angkatan Udara Senegal [BUMN]

Indonesia merupakan mitra penting di kawasan Asia bagi Kolombia, bahkan dalam hal perdagangan pihaknya akan terus meningkatkan hubungan perdagangan dengan Indonesia.

Wakil Menteri Luar Negeri Republik Kolombia Patti Londono Jaramillo pada saat menerima salinan surat-surat kepercayaan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Republik Kolombia Priyo Iswanto, di Istana San Carlos, Bogota, Jumat.

Londono menekankan agar kedua negara saling membuka diri sehingga volume ekspor dan impornya dapat meningkat, kata Priyo Iswanto mengutip Londono, melalui saluran telpon dari Bogota, Sabtu.

Priyo mengatakan, volume perdagangan kedua negara di tahun 2016 baru mencapai USD 133,19 juta, didominasi oleh ekspor RI ke Kolombia dengan jumlah mencapai USD 124,97 juta atau sekitar 93 persen dari total perdagangan bilateral dua negara.

Produk ekspor Indonesia ke Kolombia masih didominasi oleh tekstil, suku cadang kendaraan bermotor, sepatu/alas kaki, dan produk karet. Sementara itu, impor Indonesia dari Kolombia terdiri dari permesinan, produk plastik, produk kimia dan batu mulia.

Guna meningkatan volume perdagangan itu, kata Priyo Iswanto, pihaknya akan terus memberikan kemudahan dan jika perlu membantu menghilangkan hambatan soal “double tax”.

Di luar itu, ia juga terus mendorong pertemuan antara sektor swasta Indonesia dengan mitra dagang Kolombia sebagai upaya penetrasi pasar di dua negara.

PT Dirgantara Indonesia North America (PTDI) telah menawarkan kepada mitra di Kolombia antara lain penyediaan suku cadang, pelatihan, penjualan pesawat baru produk PTDI dengan skema buy back”.

Selain itu penetrasi ekspor kertas pengaman (security paper) ke Kolombia oleh PT Pura Barutama sebagai produsen “security paper” di Indonesia telah didorong untuk meningkatkan volumenya, karena kebutuhan akan hal itu di Kolombia masih terbuka.

Bahkan, ia juga melihat peluang kerja sama bidang perkebunan sawit. Para pengusaha Kolombia banyak yang bertanya soal sawit di Indonesia, mereka akan membeli dan untuk selanjutnya diolah di Kolombia.

Priyo menambahkan meskipun kedua negara terletak jauh secara geografis, tetapi intensitas kunjungan antarpejabat serta wisatawan menunjukkan kedekatan cukup erat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik RI jumlah wisatawan Kolombia meningkat dari tahun 2015 sebanyak 2.932 wisatawan menjadi 3.285 orang pada 2016.

  ♔ antara  

KBRI Promosikan Produk Indonesia di Pameran Gambia

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcHZT_kjUEVfiTCxeQrCgdiUHkiHplkPbLXORLqrZjKSnRqr2gua9FMO1MlhOQLAxdGXGQRXkCdvwDz8F28z8BWCigcKgpQpQ7ky0W-KUKRz_XubDT05qiGmfmWwN8hyphenhyphenPUyZwJSP29c_M/s1600/2013+nov+aerotech+2.jpgIlustrasi CN 235 ★
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Dakar mempromosikan produk-produk Indonesia dalam pameran dagang Gambia, Trade Fair Gambia International (TFGI), ke-11 yang berlangsung 15-30 April 2017.

Pameran dagang internasional itu diselenggarakan oleh kamar dagang dan industri (KADIN) Gambia di Independence Stadium, Banjul, Gambia, seperti disampaikan dalam keterangan pers dari KBRI Dakar yang diterima di Jakarta, Senin.

Berbagai sampel produk nasional Indonesia yang dipromosikan pada pameran itu, antara lain produk hasil hutan, kayu, perabotan, rotan, kayu lapis, produk makanan, hasil tambang dan pertanian, sawit dan produk turunannya, produk hasil laut, tekstil, pakaian jadi, peralatan rumah tangga, elektronik, alat-alat listrik, dan produk plastik.

Selain itu, KBRI juga mempromosikan berbagai produk industri strategis dan unggulan Indonesia, antara lain produk PT. Dirgantara Indonesia, PT. INKA, PT. Pindad, PT. PAL, PT. Sritex.

Adapun barang-barang konsumsi sehari-hari asal Indonesia yang dipamerkan, antara lain sabun, minyak goreng, saos sambal dan tomat, biskuit, teh, kopi, permen, lotion anti nyamuk, balsam gosok.

Pameran TFGI ke-11 itu secara resmi dibuka oleh Wakil Presiden Gambia, Fataoumata Tambajang, yang dalam pidatonya menyampaikan pesan Presiden Gambia, Adama Barrow.

Pemerintah Gambia sedang fokus membangun sektor pertanian, perikanan, energi dan infrastruktur. Dalam bidang perdagangan, Pemerintah Gambia akan mengurangi berbagai hambatan dan mempermudah dalam melakukan bisnis di Gambia serta menciptakan lingkungan bisnis yang bersahabat.

Duta Besar RI Dakar yang juga merangkap Gambia Mansyur Pangeran dan Ketua KADIN Senegal Serigne Mboup menjadi tamu kehormatan pada pameran dagang terbesar di Gambia tersebut.

Ketika berkunjung ke stand Indonesia, Wakil Presiden Fataoumata Tambajang disambut Dubes Mansyur Pangeran, yang kemudian memberikan penjelasan mengenai produk-produk industri strategis dan unggulan Indonesia.

Dubes RI juga mempromosikan pesawat CN-235 yang pernah membawa Presiden Gambia yang baru terpilih, Adama Barrow, dari Dakar ke Banjul pada Januari 2017 tidak lama setelah pesawat CN-235 tiba di Dakar.

Selain itu, dia menyampaikan tentang kerja sama pertanian RI-Gambia yang telah terjalin lama dengan berdirinya "Agricultural Rural Farmer Training Center" (ARFTC) di Jenoi untuk meningkatkan kapasitas petani Gambia.

"Saya sampaikan kepada Wapres Gambia mengenai kerja sama antara KADIN Indonesia-Gambia dalam bentuk nota kesepahaman yang ditandatangani di Jakarta tanggal 7 November 2016," ujar Dubes Mansyur. (*)

  Antara  

Pembelian Sukhoi Ada di Tangan Kemendag

✈ Pasti terlaksana dengan 50% imbal dagang https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhj60MUwzsrhdud_ouOzA8227dgwr6RFge7C07AFmpkTjccMc2DH-aOcB-RGARIliKvZtVz0JlM7RDx-lqogBPzRStIS4x1KGP31yxonSasvbAUL6UDXTnrOWXmlav39ijAg6nIUOHWnlY/s1600/A-Sukhoi-SU-35-takes-off-during-a-flying-display-one-day-before-the-50th-Paris-Airshow.jpgSu35 Rusia

Pembelian pesawat tempur Sukhoi SU 35, pasti terlaksana menurut Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu.

Ia memastikan pesawat tempur generasi 4 sebanyak sepuluh unit itu, pasti datang ke Indonesia. "Dari dua tahun lalu saya sudah nego(siasi) itu, sudah (pasti datang)," ujarnya kepada wartawan di kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Kemanan (Kemenkopolhukam), Jakarta Pusat, Senin (12/6/2017).

Kapan sepuluh unit pesawat tempur buatan Russia itu akan tiba di tanah air, ia menyebut hal itu ada di tangan Kementerian Perdagangan (Kemendag), yang ikut menangani pembelian Sukhoi SU 35.

"Itu urusan Kementerian Perdagangan, saya minta beli, kemudian 'G to G' (Goverment to Goverment), tidak ada calon, kemudian ada lima puluh persen imbal dagang," ujarnya.

Selain itu, perjanjian antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Russia terkait pembelian pesawat tempur yang mampu melakukan manuver Pugachev Cobra itu, adalah pembangunan suku cadang pesawat tempur di Indonesia.

"Mereka akan buat pabrik di sini untuk suku cadang, jadi nggak usah bawa-bawa ke Russia, mahal itu. Jadi nanti yang punya (pesawat) Sukhoi seperti Malaysia, perbaikannya sama kita (saja)," ujarnya.

  Tribunnews  

Banyak Potensi Kerja Sama dengan Polandia

Mulai dari industri militer hingga minyak sawit.Ilustrasi radar buatan Polandia [defence24]

Polandia disebut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia, Luhut Binsar Pandjaitan, punya banyak potensi kerja sama untuk dikembangkan dengan Indonesia, mulai dari industri militer hingga minyak sawit.

Industri strategis Indonesia seperti PT PAL dan PT Pindad dapat mengembangkan kerja sama dengan Polandia. Selain itu teknologi radar militer Indonesia juga dapat dikembangkan melalui kerja sama antara ITB dan Pit-Radwar Polandia,” ucap Luhut pada saat kunjungannya ke Polandia dari tanggal 8-10 Juni 2017.

Luhut juga menyebut industri minyak kelapa sawit bisa bekerja sama dengan Polandia sehingga bisa menembus pasar Eropa.

Di Polandia, Luhut bertemu Wakil Menteri Pertahanan Polandia, Bartosz Kownacki, di Wisma Duta RI Warsawa. Pertemuan dilanjutkan dengan Wakil Perdana Menteri Polandia yang juga menjabat sebagai Menteri Pembangunan dan Keuangan, Mateusz Morawiecki.

Beberapa hal yang diangkat pada pertemuan tersebut antara lain penerbangan langsung Indonesia-Polandia dengan menggunakan Garuda Indonesia dan maskapai nasional Polandia, LOT Polish Airlines, permintaan dukungan Polandia atas nominasi Dubes Arif Havas Oegroseno menjadi calon hakim Pengadilan Laut Internasional periode 2017-2026 dan potensi kerja sama di bidang pendidikan tinggi antara kedua negara.

Selain itu juga dibahas kemungkinan kerja sama di bidang pengolahan sampah jadi energi (waste to energy).

Luhut juga menyampaikan bahwa Indonesia dan Polandia melalui perusahaan Rafako, akan bekerja sama di bidang energi dalam penyediaan listrik sebanyak 100 megawatt di daerah Lombok, Indonesia.

Menteri Morawiecki menyambut baik kerja sama itu dan berharap akan ada proyek-proyek lanjutan antara Indonesia dan Polandia di masa mendatang.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Fadel Muhammad juga menyebut hal senada dengan Luhut di pertemuan tersebut.

Merupakan tugas KBRI Warsawa untuk mempromosikan potensi kerja sama dengan Polandia kepada pihak-pihak di Indonesia, sehingga dapat menimbulkan manfaat untuk kedua negara” ungkap mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia tersebut.

Di hari yang sama, Menteri Luhut juga menghadiri acara penyerahan alat musik Kolintang dari KBRI Warsawa kepada Pemerintah Polandia melalui Museum Asia Pasifik.

Indonesia merupakan negara yang beragam dan terdiri dari berbagai suku, agama dan budaya, termasuk alat musik tradisional. Kolintang merupakan alat musik yang berasal dari Sulawesi Utara dan memiliki perbedaan dengan Gamelan yang berasal dari Jawa.” ujar Dubes RI Warsawa Peter F. Gontha pada pembukaan kegiatan tersebut.

Dia juga menekankan pentingnya kerja sama di bidang sosial budaya antara kedua negara.

Para hadirin kemudian disuguhi pertunjukan Kolintang yang membawakan lagu Rayuan Pulau Kelapa, Bengawan Solo serta lagu Polandia W Moim Ogrodzie dan beberapa lagu lainnya. (vws)

   CNN  

"You cant win Southeast Asia without winning Indonesia" says Go-Jek founder

The founders of two of Indonesia's most successful companies talk growth strategies and international competition in their country's highly attractive market environment. imageL-R: William Tanuwijaya of Tokopedia, Nadiem Makarim of GO-JEK and The Wall Street Journal's global techology editor, Jason Dean. [Credit: The Wall Street Journal's D.Live Asia Conference] ★

The beauty of building business in Indonesia today is that enterprising companies can learn from the mistakes made by their more developed neighbours, such as China and India. That insight comes from the CEOs of two of Indonesia’s most successful homegrown companies, online marketplace Tokopedia and cross-sector startup Go-Jek, speaking at The Wall Street Journal’s D.Live conference in Hong Kong today.

While Indonesia’s GDP per capita last year was around the same as China’s in 2008, according to William Tanuwijaya, CEO of Tokopedia, Indonesia today has various advantages that he thinks will lead to relatively faster growth for the ecommerce sector. “In Indonesia in 2016, if you compare, we have a $100 smartphone Android, which wasn’t available in China in 2008. We also have 4G now, which wasn’t available in China in 2008.

The opportunity in Indonesia is really massive,” agreed fellow panelist Nadiem Makarim, CEO and founder of Go-Jek Indonesia, which offers local transport, logistics, food and payment services and was the first startup in the country to be classified a “unicorn”, last year. “We totally skipped the desktop experience and went straight to smartphones,” he said.

Both companies have seen massive growth in recent times as a result. Tokopedia is 16 times larger today than it was in 2014, explained Tanuwijaya, while Go-Jek now has 10 million weekly active users and accounts for half of the transportations business and 98 percent of the food delivery market in Indonesia.

Both have ambitious plans for the next few years, too. “Our goal is to kill this,” said Makarim, holding up a wallet. “We target the highest-frequency middle class transactions that a person does in their daily life and move it to the smartphones. Transport, food, moving stuff, buying airtime...and then utilities, bills etcetera—our goal is to cover the gamut of transactions so you won’t be required to transact outside your smartphone.” In a country where 70 percent of the population is unbanked, he continued, it’s "practically an open market" for this kind of innovation.

This means, of course, said interviewer Jason Dean, The WSJ's global technology editor, that plenty of other companies besides Go-Jek and Tokopedia are eyeing up Indonesia a highly attractive market too. With big international players such as Grab, Uber, Alibaba, Amazon and Tencent making noise in the region, what makes the local firms think they can win, asked Dean.

Starting up as early as 2009 means Tokopedia has won a few wars already, said Tanuwijaya, mentioning eBay as one competitor his company has seen off. “We always see competition as a good thing. If you survive long enough you really win the market against all the odds,” he said.

Makarim added that the local companies retain the advantages of agility and depth over the multinationals. “As William said, there are huge hidden costs of trying to do business in multiple countries at the same time. You can do one thing really well and replicate it across countries, or you can pick one market and go deep, as Go-Jek did. In this open market we decided ‘what can we defend?’. We will defend the consumer, we decided.

The audience appeared to share their optimism. Polled on the question “Who will ultimately dominate Southeast Asia’s consumer internet?”, many more answered 'local companies' over those from China or the US.

Both Tanuwijaya and Makarim refused to comment on rumours of investment from big names such as JD or Tencent, but both admitted that international expansion is something they would consider—when the time is right.

"You can't win Southeast Asia without winning Indonesia," said Makarim. "We have to be comfortable across all verticles and we also dont believe in expanding just for the sake of expanding."

  Campaign Asia  

Indomie Tempati Urutan Delapan Dunia

Makanan Yang Sering Dikonsumsi Kantar Worldpanel merilis Brand Footprint 2017. Hasilnya, Indomie dinobatkan sebagai merek produk yang paling sering dipilih konsumen Indonesia di perkotaan besar.

Setidaknya hampir semua penduduk Indonesia pernah membeli merek Indomie, rata-rata 3–4 kali dalam sebulan selama 2016.

Menurut New Business Development Director Kantar Worldpanel Indonesia Fanny Murhayati, kekuatan Indomie membuat merek tersebut berhasil mempertahankan posisi teratas dalam survei Brand Footprint sejak tahun lalu.

"Bahkan Indomie juga mampu memperoleh posisi ke delapan merek paling banyak dipilih di seluruh dunia," ujar Fanny di Jakarta, Jumat (2/6).

Di Nigeria, Indomie kata Fanny, juga berhasil menjuarai ranking Brand Footprint dan berada pada posisi nomor satu.

Penjualan international yang luas, merupakan salah satu faktor pendukung performance dari Indomie.

"Di samping Indonesia dan Nigeria, Indomie juga memiliki pangsa pasar di Ghana, Malaysia, Timur Tengah, Turki, dan Amerika Serikat," ucapnya.

Fanny menuturkan, selain Indomie, merek lain yang paling banyak dipilih konsumen Indonesia yaitu Royco, Mie Sedap, Frisian Flag, So Klin, Kapal Api, Indofood, Masako, Lifebuoy dan Rinso.

"Untuk dunia, Coca Cola merupakan merek yang paling sering dipilih oleh konsumen. Setidaknya 42 persen dari seluruh rumah tangga di dunia pernah membeli merek Coca Cola sekitar 13 kali dalam kurun satu tahun terakhir," tutur Fanny.

Kantar Worldpanel merupakan perusahaan riset terkemuka dalam bidang pengetahuan dan wawasan konsumen yang menggabungkan monitoring pasar, analisis terkemuka, serta solusi riset pasar yang dapat disesuaikan.

Tim terdiri dari 3.500 orang di lebih 50 negara termasuk Indonesia.(gir/jpnn)


  ★ JPNN  

Indomie Kuasai 70% Pangsa Pasar Nigeria

http://image.elevenia.co.id/g/7/4/7/6/8/8/18747688_B_V1.jpgProduk mie instan milik PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) yakni Indomie sudah tersohor di beberapa negara di dunia. Bahkan penjualan Indomie merajai pangsa pasar di beberapa negara.

Direktur INDF Thomas Tjhie mengatakan, salah satu penjualan Indomie terbesar berada di Afrika khususnya di Nigeria. Indomie di negara tersebut menguasai pangsa pasar hingga 70%.

"Untuk di Afrika paling besar di Nigeria, Indomie di sana menguasai pasar sekitar 70%," tuturnya di Plaza Indofood Tower, Jakarta, Jumat (2/6/2017).

Di Nigeria, Indomie memang sudah sangat tersohor. Bahkan di negara tersebut ada organisasi pecinta Indomie yang bernama Indomie Fans Club (IFC).

Bukan hanya itu, Indomie yang di sana diproduksi oleh Dufil Prima Foods Plc juga memperoleh status mie instan yang paling laris di Afrika. Penobatan itu diberikan oleh Kantar World Panel.

Selain Afrika, Indomie juga telah hadiri banyak negara, mulai dari Timur Tengah, Australia, hingga Eropa. Untuk Eropa Timur Indomie juga sudah masuk ke negara Serbia.

INDF tahun ini menargetkan kontribusi penjualan dari sisi ekspor bisa menyumbangkan porsi 8-10% dari total pendapatan secara konsolidasi.

Tahun ini perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 10-12%. Adapun perolehan pendapatan perseroan di 2016 sebesar Rp 66,75 triliun. (ang/ang)

  detik  

Banyak Negara Afrika Kepincut Kereta Buatan INKA

Dapat proyek 100 lokomotif ke ZambiaDeretan produk kereta buatan PT Industri Kereta Api (INKA) tembus pasar internasional. Kereta buatan INKA laris dibeli sejumlah negara, mulai dari Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, hingga ke negara kanguru yakni Australia.

Direktur SDM dan Keuangan Inka, Mohamad Nur Sodiq, mengungkapkan pihaknya saat ini fokus membidik negara-negara Afrika sebagai pasar baru. Menurutnya, beberapa negara yang disasar yakni Mesir, Senegal, Zambia, dan Ethiopia.

"Kita baru dapat proyek pembuatan 100 lokomotif ke Zambia, ini kerja sama dengan Bombardier, nilainya hampir US$ 40 juta. Sebenarnya kita sudah bisa buat lokomotif sendiri, tapi untuk teknik yang lebih canggih, kita kerjasama dulu," ujar Sodiq ditemui di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (2/6/2017).

Menurutnya, sejumlah negara di Afrika yang sudah menyatakan ketertarikannya pada kereta maupun lokomotif. Pihaknya sudah mengirim tim ke negara-negara tersebut, beberapa bahkan sudah mulai ikut tender.

Hal yang membuatnya cukup optimis, lantaran produk INKA diakui lebih murah dibandingkan sejumlah pemasok di Afrika seperti Eropa dan China.

"Kita sudah kirim tim ke Senegal, Mesir, dan Ethiopia untuk mendetailkan pola kebutuhan kereta yang mereka inginkan. Harga kita lebih kompetitif, jauh lebih murah dari Eropa, bahkan China sekalipun. Selama ini Afrika kan jadi market kereta Eropa," jelas Sodiq.

Sementara itu, Direktur Utama INKA, Agus Purnomo, mengungkapkan pihaknya memang agresif menggeber pasar kereta api di luar negeri. Apalagi, saat ini sudah banyak negara yang mengakui kualitas kereta made in Madiun tersebut.

"Kami keliling ke beberapa negara dan ambil pasar secara perlahan dari kompetitor kami dari Eropa dan China. Tahun depan bahkan kita bangun pabrik baru dekat pelabuhan untuk memudahkan ekspor. Karena ongkos kirim kereta ke pelabuhan lumayan mahal," terang Agus. (idr/mkj)

   detik  

Rusia Tertarik Tukar Sukhoi Dengan Remah Karet

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiU35ddKjF3nAtbkZ_Qzosv8x37iJnsG5xcUJbcrYk25xbbrBTQm0vItIx6xoZUFfGsNQeyZWDCGrzU6z5Iuej1MWi2VTQKB_6ELTHwbl-1deIj7bH-LJpRkrGH5Gx8qOoCq9RfjUdru60/s1600/Su-35.jpgPesawat tempur Su-35 [Militaryphotos]

P
emerintah Rusia tertarik dengan produk karet asal Indonesia. Minat tersebut diutarakan Rusia menanggapi kebijakan Pemerintah Indonesia dalam mengimplementasikan imbal beli dengan negara produsen senjata.

Direktur Jenderal (Dirjen) Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemdag) Oke Nurwan bilang, produk karet yang diminati itu adalah crumb rubber alias karet remah. “Mereka tertarik di crumb rubber. Tapi belum kami putuskan,” kata Oke, akhir pekan lalu.

Komoditas karet menjadi salah satu yang tengah dikaji oleh pemerintah untuk imbal dagang dengan produk senjata Rusia. Menurut Oke, payung hukum dari jenis produk yang disepakati dengan mekanisme imbal dagang akan dibuat dalam bentuk Peraturan Menteri (Permen).

Dengan Rusia, produk yang diinginkan oleh Pemerintah Indonesia adalah pesawat tempur Sukhoi. Adapun nilai imbal dagang yang akan dilakukan dengan Rusia sekitar US$ 600 juta.

Atas kebijakan imbal dagang ini, Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO) merespon positif. Mereka berharap dengan skema imbal datang ini, maka akan terjadi perluasan pasar sehingga harga karet akan kembali melar setidaknya mencapai US$ 6 per kilogram (kg).

Sebab dalam tiga tahun terakhir harga karet dunia terus anjlok. “Bila harga karet naik, maka petani karet kecil juga akan untung lantaran harganya terangkat,” kata Dewan Penasehat GAPKINDO Asril Sutan Amir.

Seperti diketahui, sejak akhir kuartal I lalu, petani karet gigit jari lantaran harganya anjlok. Harga karet ditingkat petani dihargai Rp 6.000 per kg atau turun 40% dibandingkan awal tahun yang berada di kisaran Rp 10.000 per kg. Ketua Umum Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Lukman Zakaria bilang, penurunan harga karet tersebut terjadi sejak bulan Maret lalu. “Sudah turun banyak (harga), tinggal Rp 6.000 per kg di tingkat petani,” kata Lukman.

Menurunnya harga jual karet petani ini, menurut Lukman, disebabkan karena permintaan dunia yang menurun. Biasanya kontrak baru pembelian karet dilakukan setiap awal tahun. Hal ini yang cukup mempengaruhi harga beli karet ditingkat petani.

Meski tidak merinci, Lukman bilang, dengan banyaknya kontrak baru di awal tahun, maka saat ini stok karet di gudang-gudang konsumen karet dan eksportir masih penuh. “Awal tahun kemarin banyak kontrak baru pemesanan. Jadinya gudang mereka penuh, sehingga harga karet turun,” katanya.

 Produk Bernilai Tambah 

Implementasi imbal dagang diharapkan mampu memberi dampak positif bagi Indonesia. Selain karet, pemerintah Indonesia berharap terhadap produk-produk lain yang bernilai tambah, contohnya dengan imbal dagang perlengkapan baju militer dengan persenjataan dari Rusia.

Sekadar catatan, implementasi kebijakan imbal dagang tertuang dalam UU Nomor 16 tahun 2012 tentang industri Pertahanan. Jenis alutsista yang dapat diimplementasikan dengan kebijakan ini disesuaikan dengan kebutuhan dan tidak terbatas pada produk tertentu.

Terkait kebijakan imbal beli ini, Kemdag juga telah meluncurkan aturan turunnya yakni Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.44/M-Dag/Per/2016 tentang Ketentuan Imbal Beli Pengadaan Barang Pemerintah Asal Impor.

Beleid ini mengatur pengadaan barang pemerintah yang berasal dari impor dengan nilai tertentu, dan atau berdasarakan peraturan perundang-undangan wajib dilaksanakan melalui imbal beli. Jenis dan nilai barang untuk pengadaan barang pemerintah serta prosentase kewajiban imbal beli ditentukan oleh tim yang dibentuk oleh menteri.

Dalam aturan itu juga disebutkan, barang ekspor Indonesia untuk pemenuhan kewajiban imbal beli hanya komoditi non migas. Perusahaan pemasok atau perusahaan pihak ketiga yang tidak merealisasikan ekspor untuk memenuhi kewajiban imbal hasil dikenakan sanksi kewajiban untuk membayar denda sebesar 50% dari nilai kewajiban imbal beli pengadaan barang pemerintah asal impor.

  ★ Kontan  

Senegal Minat Tambah 2 Unit CN235

Kerjasama RI Dengan Senegal Semakin Kuat https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig4JCZi4UycmSNmgBaA-pmpgh-ppMTlYW55QGyrp2oerEq3_ZczNuFgQir_PGx0IjF0rOV0m7okKoYzY8Yxyn9bq_HEQt8hNaVn7MhYLc4XktkQz-4z-Cq0lebJgmLyWwVoHQxxZo_gxw/s400/cn-235-dakar.jpgPesawat CN-235 Angkatan Udara Senegal [PTDI] ☆

Penguatan itu khususnya antara DPR-RI dengan Parlemen Nasional Senegal. Dalam kunjungan tersebut, delegasi BKSAP DPR RI dipimpin oleh Rofi Munawar selaku Wakil Ketua BKSAP.

BKSAP melakukan pertemuan dengan beberapa pejabat penting Senegal, antara lain, Ketua Parlemen Senegal, Komisi Hubungan Luar Negeri Parlemen Senegal, dan Direktur Kabinet Kementerian Infrastruktur, Transportasi dan Pembukaan Lahan Senegal.

Informasi ini disampaikan Sekretaris Kedua Kepala Fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya Kedutaan Besar Republik Indonesia di Dakar, Dimas Prihadi.

Dalam pertemuan dengan Ketua Parlemen Nasional Senegal, Moustapha Niasse, disepakati perlu MoU persahabatan antara Parlemen Nasional Senegal dengan BKSAP DPR RI. Disampaikan oleh Ketua Delegasi BKSAP bahwa antara Indonesia dan Senegal ada kesamaan yang dapat dijadikan sandaran untuk memperkuat hubungan persahabatan kedua negara.

Dua negara merupakan negara dengan mayoritas berpenduduk muslim moderat dan menjalankan demokrasi, memiliki banyak kesamaan sikap dan pandangan dalam menyikapi masalah domestik masing-masing, regional dan internasional terutama saling dukung atas keutuhan dan kedaulatan kedua negara. Dua negara juga secara aktif memperjuangkan kemerdekaan negara Palestina di fora internasional.

Untuk memperkuat hubungan antar parlemen, Moustapha Niasse mengatakan, akan merencanakan kunjungan ke Indonesia setelah pemilu legislatif Senegal bulan Juli 2017.

Sementara itu, Komisi Hubungan Luar Negeri Parlemen Nasional Senegal, Maitre Djibril War, mengakui bahwa Parlemen Senegal perlu banyak belajar dari pengalaman Parlemen Indonesia. Menilai keseriusan Indonesia dalam melakukan hubungan kerjasama dengan Senegal, Djibril War akan mengusulkan kepada Pemerintah Senegal untuk kembali membuka kantor perwakilan di Jakarta yang dulu pernah dibuka pada tahun 2013 namun ditutup 6 bulan kemudian karena alasan finansial.

Di samping itu, sebagai tindak lanjut pertemuan, Dubes RI di Dakar, Mansyur Pangeran, dengan Menteri Infrastruktur, Transportasi dan Pembukaan Lahan Senegal, Mansour Lamin Kane, dan delegasi BKSAP bertemu dengan Direktur Kabinet Kementerian Infrastruktur, Transportasi dan Pembukaan Lahan Senegal, Mouhamadou Diop, untuk menindaklanjuti rencana kerjasama pembangunan jalur kereta api dan jalan tol di Senegal.

Dalam kesempatan itu, Dubes Manyur Pangeran menyampaikan bahwa rencana kerjasama pembangunan perkeretaapian Senegal telah mendapat tanggapan positif dari PT. INKA yang akan berkunjung ke Dakar dalam waktu dekat ini. Disampaikan oleh Dubes Mansyur bahwa kemampuan PT. INKA di bidang perkeretaapian telah terbukti dengan penjualan ratusan gerbong kereta api ke Filipina, Bangladesh, Nepal, Sri Lanka, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Australia.

Rencana Pemerintah Senegal untuk membangun 450 km jalan tol dan jalur kereta api double track sepanjang 750 km merupakan proyek besar dan kesempatan bagi Perusahaan BUMN Indonesia seperti PT. WIKA dan PT. Waskita Karya untuk berinvestasi melalui mekanisme yang disepakati kedua pihak.

Fakta bahwa Pemerintah Senegal sudah membeli dua pesawat CN-235 dari PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI) dan merencanakan akan membeli dua pesawat lagi, merupakan bukti bahwa Pemerintah Senegal memiliki kemampuan membeli produk industri strategis dari negara lain.

Kunjungan BKSAP ke Senegal merupakan yang kali pertama dilakukan. BKSAP telah secara aktif melakukan kerjasama parlemen dengan 54 negara. Kerjasama dengan Parlemen Senegal akan memperluas kerjasama BKSAP dengan mitra Parlemen di Afrika.

  RMOL  

Pemerintah Dorong Ekspor Alat Transportasi Dan Pertahanan ke Angola

✈ N219  [PTDI]

Kementerian Perindustrian mendorong pelaku industri nasional untuk memperluas pasar ekspor ke Angola terutama alat transportasi dan pertahanan serta elektronika, guna memacu kontribusi sektor nonmigas terhadap nilai perdagangan kedua negara yang berkisar 292,8 juta dolar AS tahun lalu.

"Angola bisa menjadi negara pusat untuk promosi produk-produk industri Indonesia ke pesisir barat Afrika," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto usai menerima Menteri Luar Negeri Angola Georges Rebelo Pinto Chikoti beserta delegasi di Jakarta, Rabu.

Airlangga, melalui keterangan tertulis, menjelaskan bahwa dalam pertemuan bilateral itu kedua belah pihak saling memberikan informasi mengenai regulasi teknis serta mendalami sektor-sektor potensial di bidang investasi industri.

Nantinya, kami berharap adanya komitmen kerja sama yang komprehensif dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi masing-masing negara,” ujarnya.

Pemerintah Indonesia telah menawarkan beberapa produk industri strategis nasional, antara lain pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia (DI), kendaraan angkut militer buatan PT Pindad, kapal laut buatan PT PAL dan gerbong kereta dari PT INKA.

Bahkan, Menlu Angola berencana mengunjungi secara langsung PT DI dan PT Pindad untuk menjajaki peluang kerja sama yang dapat dikembangkan. “Mereka sempat menanyakan cara pembelian pesawat dari Indonesia,” tutur Airlangga.

Di samping itu, Angola tengah memerlukan bantuan pelatihan di bidang industri seperti yang dilakukan Indonesia kepada Nigeria dan Mozambique. Misalnya, pelatihan untuk peningkatan kapasitas produksi sektor tekstil dan makanan.

Selanjutnya, Indonesia membuka peluang kerja sama di sektor industri kecil dan menengah (IKM). Apalagi, Kemenperin sedang mendongkrak pasar ekspor bagi produk IKM dalam negeri, salah satunya dengan memanfaatkan program e-smart IKM.

Langkah ini turut mewujudkan target penumbuhan wirausaha baru di Indonesia sebanyak 20.000 orang pada akhir tahun 2019,” ungkapnya.

Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin RI, Harjanto mengatakan, semua bisnis baru di Angola harus terdaftar dalam Angolan Private Investment Agency (ANIP).

Terdapat beberapa cara bagi perusahaan untuk dapat beroperasi di Angola, di antaranya adalah mendaftar sebagai perusahaan asing, bekerja sama dengan perusahaan lokal, dan mengembangkan anak perusahaan dengan mendaftar sebagai perusahaan Angola,” paparnya.

Harjanto menambahkan, adanya persyaratan konten lokal menuntut investor asing menggunakan jasa dari perusahaan yang sahamnya sebagian besar dimiliki Angola. Selain itu, pemerintah Angola sedang melakukan proses “Angolanising”, yang menuntut perusahaan untuk mempekerjakan masyarakat lokal.

Pada tahun 2012, peraturan penanaman modal bagi perusahaan swasta di sana, mensyaratkan investasi minimal USD 1 Juta untuk memperoleh insentif,” ungkapnya.

Dalam rangka diversifikasi ekonomi, menurut Harjanto, Pemerintah Angola juga menawarkan kepada pengusaha Indonesia untuk pembangunan industri perikanan, pertanian, pertambangan, infrastruktur, makanan, dan mineral.

Pemain utama pada sektor minyak dan pertambangan di Angola adalah Sonangol (perusahaan afiliasi China), British Petroleum (perusahaan afiliasi Inggris), dan Exxon (perusahaan afiliasi Amerika Serikat). Hubungan diplomatik kedua negara telah dibuka sejak 2001 dan Angola merupakan mitra dagang Indonesia terbesar ke-3 di kawasan Afrika sub-Sahara setelah Afrika Selatan dan Nigeria.

Komoditas impor Indonesia dari Angola adalah minyak dan gas bumi, sementara produk ekspor Indonesia adalah pipa besi, sabun, seng, korek api, kendaraan, margarin, ikan olahan, obat, kertas dan minyak sawit.

  antara  

Ekspor Sawit RI ke Eropa Dihambat

Mendag: Ini Perang Dagang https://akcdn.detik.net.id/community/media/visual/2016/02/09/1e827bd3-0955-44d7-a0f8-ee5943c2667f_169.jpg?w=780&q=90[Febri Angga Palguna]

Produk sawit Indonesia tengah jadi sorotan. Dalam sebuah resolusi yang dikeluarkan Parlemen Uni Eropa (UE), komoditas andalan ekspor Indonesia ini dikaitkan dengan isu pelanggaran HAM, korupsi, pekerja anak, dan penghilangan hak masyarakat adat.

Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita, menyebut pihaknya sudah menyampaikan keberatan kepada Menteri Perdagangan UE saat bertemu di Manila, Filipina. Resolusi tersebut, menurut dia, erat kaitannya dengan persaingan dagang tak sehat.

"Masalah sawit sekarang kalau bicara deforestasi, apa bedanya sawit dengan minyak nabati lain? Apa bedanya dengan vegetable oil di Eropa?" kata Enggar di Jakarta, Rabu (12/4/2017).

"Itu pasti dimulai dengan digundulkan dulu sebelum ditanam, apakah enggak ada double standard di sana, apakah tidak ada kepentingan dagang di sana? Disalurkan melalui Parlemen Eropa, ini yang saya sampaikan protes," katanya lagi.

Diungkapkannya, tudingan tersebut tidak berdasar. Sawit Indonesia sendiri sudah menerapkan standar lingkungan berkelanjutan lewat Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO). Sawit juga selama ini jadi penggerak petani rakyat dan industri kecil menengah.

"Bahwa kami keberatan, kita sudah melalukan sustainable seperti ISPO dan sebagainya, ini akan ganggu perjanjian kita dengan UE kalau hal-hal seperti ini didiamkan, kita sekarang juga sampaikan ini menyangkut sekian banyak petani, sekian banyak industri kecil, menyatakan mari kita konsentrasi dan bantu UKM, tapi langkah ini tidak mencerminkan hal itu," jelas Enggar.

Dia melanjutkan, jika memang resolusi tersebut bisa jadi genderang perang dagang yang bisa saja dibalas Indonesia.

"Kalau terjadi retaliation (pembalasan) apakah ini bukan perang dagang. Anda minta jangan perang dagang tapi Anda memulai ini, benar-benar ingatkan pada parlemen Eropa, kalau mau benar-benar dagang tanpa double standard, kami sudah mulai dengan ISPO. Kayu pun mereka terapkan (standar) SLVK, tapi tidak semua. Parlemen kami pun bisa lalukan hal yang sama," ucapnya. (idr/hns)

 Jangan Mau Didikte! 

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman berang dengan Parlemen Uni Eropa. Amran mengancam akan mengevaluasi ekspor sawit dan biodiesel berbasis sawit ke negara-negara Eropa.

"Kalau ada kerja sama yang telah kami tandatangani, kami evaluasi," ujar Amran dalam keterangan tertulis, Rabu (12/4/2017).

Amran menegaskan, pasar sawit Indonesia bukan cuma di Eropa. Karena itu, dia tidak gentar jika negara-negara Uni Eropa sepakat melarang sawit Indonesia beredar di pasar-pasar Eropa. Bahkan sebaliknya, Amran akan meminta eksportir kelapa sawit menghentikan pasokannya ke Eropa.

"Indonesia jangan mau didikte sama Uni Eropa! Kalau perlu hentikan ekspor sawit kita ke sana!" kata Amran.

Amran menambahkan, hingga kini Indonesia mengkonversi kelapa sawit ke biofuel B-20 sebanyak 3,2 juta ton. Sedangkan Eropa mengimpor 7 juta ton.

"Kami telah minta ke seluruh eksportir jatah yang dikonversi biofuel enggak usah ekspor ke sana. Berikutnya kita masih punya B-30 dan itu kita butuh 13 juta ton. Artinya ekspor kita nanti berkurang karena kita jadikan biodiesel," tambah Amran.

Untuk itu, Amran menegaskan, masalah sawit merupakan urusan pertanian dalam negeri. Karena itu, dia mewanti-wanti agar negara-negara Eropa tidak mencampuri kebijakan pertanian Indonesia. Pasalnya, Indonesia saat ini telah memiliki standar sertifikasi produk sawit dan turunannya atau yang dikenal Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Selain memiliki ISPO, Indonesia juga telah melakukan kerja sama dalam hal sertifikasi produk sawit dengan Malaysia melalui Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO).

"Indonesia punya standar sendiri, yakni Indonesian Sustainable Palm Oilm (ISPO). Masa (sawit) kita yang punya, dia yang mau buat standarnya. Itu cerita mana?" tegasnya.

Amran tidak takut jika harus mengevaluasi beberapa kerja sama dengan negara-negara Eropa khususnya Prancis. Pasalnya Indonesia memiliki posisi yang kuat dalam hal produsen minyak sawit dunia. Bahkan, jika digabung maka Indonesia dengan Malaysia menguasai 80 produksi CPO dunia.

Indonesia sendiri memiliki kedaulatan terhadap sawit. Karena itu, Indonesia berhak melakukan ekspor sawit kepada negara-negara yang memang membutuhkan termasuk menghentikan ekspor ke negara-negara Eropa.

"Palm oil Indonesia dan Malaysia gabung itu 80 persen (dari produksi CPO dunia). Negara Eropa kita supply hanya 3,2 juta ton per tahun untuk biodiesel, itu kecil," tegas Amran.

Lebih lanjut, Amran menjelaskan, salah satu yang dipermasalahkan oleh Uni Eropa juga yakni adanya perluasan perkebunan sawit yang akan menyebabkan kerusakan hutan. Padahal setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah Indonesia selalu berupaya menjaga kelestarian lingkungan termasuk kesejahteraan manusia di dalamnya.

"Masih ingat, Presiden melakukan moratorium untuk sawit di lahan gambut. Jadi luar biasa perhatian Presiden kepada lingkungan," jelasnya.

Terkait hal ini, Mentan balik menuding resolusi terhadap sawit Indonesia ini merupakan upaya kampanye hitam yang bertujuan untuk menjatuhkan harga sawit Indonesia di tingkat Internasional. Dia pun memastikan akan melawan kebijakan Uni Eropa tersebut mengingat resolusi ini telah mengancam kelestarian hutan di Indonesia.

"Kalau Negara Eropa selalu melakukan black campaign kepada palm oil Indonesia dan Malaysia ini berbahaya. Sebab secara tidak langsung mereka (Uni Eropa) yang memicu kerusakan hutan. Kenapa? karena ada community di bawah sawit, ada pekerja sawit, kurang lebih ada komunitas sebanyak 11 juta hingga 30 juta jiwa. Kalau harga CPO jatuh, petani pasti cari penghasilan lain. Kalau cari penghasilan lain, pasti pergi babat hutan. Siapa yang bisa tahan itu," katanya.

Amran mencatat, ada beberapa negara seperti Prancis yang selalu getol melakukan kampanye hitam terhadap sawit Indonesia. Mereka ini mengimpor sawit dalam skala kecil, yakni 200 ribu ton. Amran memastikan pihaknya kini tengah mengevaluasi kerja sama di bidang pertanian dengan Prancis.

Tidak hanya itu, Amran juga heran terhadap kebijakan Uni Eropa yang seakan-akan menganggap lebih penting menyelamatkan Orang Utan di Kalimantan ketimbang manusia yang hidup di dalamnya.

"Mereka menaruh perhatian pada Orang Utan di Kalimantan, sementara di bawah sawit ini orang benaran. Bukan Orang Utan yang cari hidup. Jadi ingat pendekatan (CPO) bukan hanya environment, tapi kesejahteraan," tuturnya.

Oleh karena itu, Amran pemerintah akan mendorong eksportir CPO dalam negeri agar fokus pada pasar besar yang tidak mempersoalkan CPO. Negara yang dimaksud Amran yakni India, China, Pakistan, Bangladesh, Turki dan negara lainnya.

"Eropa minta macam-macam standar, tapi belinya cuma sedikit. Kita minta ke negara eksportir CPO jangan ekspor ke Eropa lagi. Kami sudah sampaikan, ada community di bawah CPO, ada pedagang, petani, ini jauh lebih penting. Orang Utan saja diperhatikan, ini orang asli. Jadi pendekatannya jangan deforestasi, tapi community welfare (kesejahteraan). Ini masalah harga diri bangsa, masalah Merah Putih, kita jangan mau diatur Eropa," ucap Amran.

Sebelumnya Parlemen Uni Eropa menilai, sawit di Indonesia masih menciptakan banyak masalah mulai dari deforestasi, korupsi, pekerja anak-anak, sampai pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Indonesia oleh parlemen Uni Eropa bahkan dilarang untuk mengekspor sawit dan biodiesel ke negara lain. (nwy/hns)

  detik