PT DI Tawarkan Produk ke Kolombia
CN235-220M Multi Purpose Aircraft untuk Angkatan Udara Senegal [BUMN] ♔
Indonesia merupakan mitra penting di kawasan Asia bagi Kolombia, bahkan dalam hal perdagangan pihaknya akan terus meningkatkan hubungan perdagangan dengan Indonesia.
Wakil Menteri Luar Negeri Republik Kolombia Patti Londono Jaramillo pada saat menerima salinan surat-surat kepercayaan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Republik Kolombia Priyo Iswanto, di Istana San Carlos, Bogota, Jumat.
Londono menekankan agar kedua negara saling membuka diri sehingga volume ekspor dan impornya dapat meningkat, kata Priyo Iswanto mengutip Londono, melalui saluran telpon dari Bogota, Sabtu.
Priyo mengatakan, volume perdagangan kedua negara di tahun 2016 baru mencapai USD 133,19 juta, didominasi oleh ekspor RI ke Kolombia dengan jumlah mencapai USD 124,97 juta atau sekitar 93 persen dari total perdagangan bilateral dua negara.
Produk ekspor Indonesia ke Kolombia masih didominasi oleh tekstil, suku cadang kendaraan bermotor, sepatu/alas kaki, dan produk karet. Sementara itu, impor Indonesia dari Kolombia terdiri dari permesinan, produk plastik, produk kimia dan batu mulia.
Guna meningkatan volume perdagangan itu, kata Priyo Iswanto, pihaknya akan terus memberikan kemudahan dan jika perlu membantu menghilangkan hambatan soal “double tax”.
Di luar itu, ia juga terus mendorong pertemuan antara sektor swasta Indonesia dengan mitra dagang Kolombia sebagai upaya penetrasi pasar di dua negara.
“PT Dirgantara Indonesia North America (PTDI) telah menawarkan kepada mitra di Kolombia antara lain penyediaan suku cadang, pelatihan, penjualan pesawat baru produk PTDI dengan skema buy back”.
Selain itu penetrasi ekspor kertas pengaman (security paper) ke Kolombia oleh PT Pura Barutama sebagai produsen “security paper” di Indonesia telah didorong untuk meningkatkan volumenya, karena kebutuhan akan hal itu di Kolombia masih terbuka.
Bahkan, ia juga melihat peluang kerja sama bidang perkebunan sawit. Para pengusaha Kolombia banyak yang bertanya soal sawit di Indonesia, mereka akan membeli dan untuk selanjutnya diolah di Kolombia.
Priyo menambahkan meskipun kedua negara terletak jauh secara geografis, tetapi intensitas kunjungan antarpejabat serta wisatawan menunjukkan kedekatan cukup erat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik RI jumlah wisatawan Kolombia meningkat dari tahun 2015 sebanyak 2.932 wisatawan menjadi 3.285 orang pada 2016.
Ilustrasi produk BUMNIS [kostrad] ●
Sebanyak 6 BUMN Industri Strategis (BUMNIS) yang tergabung dalam "cluster" "National Defence and Hightech Industry" (NDHI) sepakat melakukan penjualan bersama produk melalui pameran yang digelar di Indonesia maupun di luar negeri.
Siaran pers BUMNIS yang diterima Antara di Jakarta, Sabtu menyebutkan keenam BUMN tersebut adalah PT Dahana (Persero), PT Dirgantara Indonesia (Persero), PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero), PT Industri Nuklir Indonesia (Persero), PT Len Industri (Persero), serta PT Pindad (Persero).
Ketua Konsolidasi BUMNIS yang juga Sekretaris Perusahaan PT Dahana (Persero) Mamat Ruhimat mengatakan sinergi BUMNIS itu bagian dari peta jalan (roadmap) BUMN 2015-2019.
Dijadwalkan, cluster NDHI yang dibentuk pada 22 November 2015 ini akan berpartisipasi pada ajang "Indonesia and Business Development Expo" (IBD) dan "RiTech Expo 2017" pada Agustus dan September 2017.
Sebelumnya pada Juni 2017 di Tokyo, tiga BUMN NDHI, yaitu PT Dirgantara Indonesia (Persero) dan PT Pindad (Persero) serta PT PAL Indonesia dari cluster "National Shipbuilding and Heavy Industry" (NSHI) juga mengikuti pameran pada MAST Asia 2017.
"Konsolidasi ini tidak hanya menjadi ajang mengejar target penjualan, tapi juga untuk menggodok sejumlah kesepakatan untuk bersinergi dalam melakukan publikasi bersama," ujarnya.
Publikasi bersama juga telah dilakukan antara lain di media sosial Twitter, Facebook, Youtube, dan Instagram yang membawa bendera NDHI BUMN, dilanjutkan dengan launching website dan E-Bulletin NDHI pada IBD Expo.
Menurut Mamat, konsep publikasi ini sebagai jalan memperkokoh agenda sinergi BUMN, sekaligus menggali kompetensi masing-masing perusahaan.
"Target publikasi bersama ini memberikan peluang kolaborasi antar-BUMNIS atau partner BUMNIS lainnya. Apabila masyarakat ingin lebih tahu tentang NDHI kami persilahkan untuk dapat mengikuti atau follow media sosial NDHI," ujarnya.
N245 Diusulkan Masuk Proyek Strategis Baru
N245 [indonesian-aerospace] ☆
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengaku telah mengusulkan sebanyak 55 proyek dan satu program baru untuk masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) yang nilai totalnya mencapai Rp 1.198 triliun.
Usulan tersebut artinya menambah daftar PSN yang sebelumnya telah masuk rancangan, yakni 190 proyek existing dan satu program pembangunan infrastruktur listrik 35 ribu Megawatt.
Dengan demikian kini terdapat sebanyak 245 PSN yang nilainya mencapai Rp 4.059 triliun.
Dari total proyek existing, sebanyak 20 proyek senilai Rp 33,5 triliun sudah rampung. Sedangkan 15 proyek senilai Rp 40,5 triliun dikeluarkan dari daftar PSN.
“Nah PSN yang lama itu satu program listrik swasta. Kalau yang program baru ada satu ini pesawat terbang N245, dari PT DI (Dirgantara Indonesia). Ini usulan baru yang kami ajukan,” kata Darmin di kantornya, kemarin.
Dalam daftar usulan proyek baru, terdapat 45 proyek lintas sektor yang nilainya mencapai Rp 942 triliun, mencakup proyek dari berbagai sektor yang memenuhi kelengkapan dokumen dan kriteria PSN.
Selanjutnya, 7 proyek jalan tol dengan nilai Rp 129 triliun. Tujuh proyek jalan tol Trans Sumatera dengan target pengadaan tanah tahun 2018 dan konstruksi 2019. Proyek ini diusulkan untuk memperoleh dukungan LMAN (Lembaga Manajemen Aset Negara).
Terakhir, 3 proyek perkeretaapian dengan nilai Rp 104 triliun. Terdapat proyek kereta api usulan baru yang diajukan Kementerian Perhubungan pada 10 Februari 2017.
Selanjutnya, satu program usulan baru yakni program pembuatan pesawat jarak menengah R80 senilai Rp 19,5 triliun, dan pesawat N245 senilai Rp 2,5 triliun.
“Sebagian besar kerja sama, ada juga BUMN. Tapi yang kerja sama swasta paling banyak,” pungkas Darmin.
Penanda-tanganan kontrak dengan Angkatan Darat Nepal [PTDI] ☆
Kabar menggembirakan datang dari Republik Federal Demokratik Nepal.
Direktur Utama PTDI, Budi Santoso dan Pejabat Angkatan Darat Nepal, Mayor Jenderal Purna B. Silawal menandatangani Kontrak Penjualan Pesawat CN235-220M Multi Purpose Aircraft (16/6) di Kantor Pusat Angkatan Darat Nepal, Bhadkali, Khatmandu, Nepal.
Pilot Angkatan Darat Nepal, Mayor Jenderal Sudhir Shrestha dan Komisaris PTDI, Isfan Fajar Satriyo turut menyaksikan proses penandatanganan tersebut.
Pesawat CN235-220 Military Transport yang dibeli Angkatan Darat Nepal memiliki 5 konfigurasi yaitu untuk VIP, Troop/Paratroop, Medical Evacuation, Passanger Transport dan Cargo.
✈ MAST Asia 2017
✈ Model pesawat US-2 amfibi pada pameran MAST Asia 2017. (IHS Markit/Ridzwan Rahmat)
Perusahaan pembuat pesawat Jepang, ShinMaywa menyatakan bahwa pihaknya siap memberikan transfer teknologi pesawat US-2 dengan perusahaan lokal, jika pesawat amfibi US-2 dipilih Jakarta, dimana perakitan akhir dapat dilakukan di Indonesia.
Berbicara kepada Jane (13/06) di pameran MAST Asia 2017 di Tokyo, Masayuki Tanaka, divisi ekspor ShinMaywa, memastikan bahwa perusahaan tersebut siap untuk memberikan konsesi transfer teknologi sesuai dengan kebijakan akuisisi pertahanan Jakarta.
Namun, dia mencatat bahwa ini akan sangat tergantung kepada pemerintah Jepang, yang memimpin kesepakatan potensial tersebut. Tentara Nasional Indonesia (TNI) dilaporkan mempertimbangkan kontrak awal untuk mengakusisi tiga pesawat US-2.
Meskipun ada beberapa pilihan untuk mendistribusikan pekerjaan di platform ini, secara logistik sangat menantang dan mahal untuk mengangkut komponen pesawat terbang utama yang akan dikumpulkan di Indonesia, kata Tanaka, yang mengemukakan bahwa pengaturan semacam itu bisa berakhir dengan biaya lebih banyak ditanggung pelanggan.
Bisa jadi lebih layak bagi pesawat yang akan dikirim sepenuhnya dirakit dengan konfigurasi akhir yang harus dilakukan di negara pelanggan, tambahnya, menyebut produsen pesawat terbang milik negara PT Dirgantara Indonesia sebagai mitra kerja sama.
Namun, Tanaka tidak dapat memberikan indikasi kapan kesepakatan untuk AS-2 akan terwujud, menambahkan bahwa perundingan antara kedua pemerintah tersebut sedang berlangsung.
✈ Indonesia Teknologi
✈ Di Tokyo
PT Pindad (Persero) yang tergabung dalam klaster National Defence and High-Tech Industry (NDHI) Kementerian BUMN dalam paviliun Indonesia mengikuti pameran Maritime/Air Systems & Technologies for Defence, Security and Safety (MAST Asia) yang diselenggarakan pada 12-14 Juni 2017 di Tokyo, Jepang.
Kementerian BUMN hadir di MAST Asia diwakili oleh klaster NDHI & NSHI yang menampilkan berbagai mock up beserta poster produk. 5 BUMN yang hadir langsung yaitu PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, PT Pal Indonesia, PT Len Industri dan PT Dahana. Adapun BUMN yang tidak hadir langsung diwakili oleh poster produk.
Partisipasi Indonesia dalam pameran teknologi sistem maritim dan udara ini untuk menunjukkan berbagai kemajuan teknologi, khususnya di bidang industri pertahanan yang tidak kalah dengan negara lain. Indonesia Bersama Jepang dan India merupakan wakil dari Asia yang mengikuti event ini.
Pindad menampilkan mock up dan poster produk maritim serta produk unggulannya seperti Anoa Amphibious yang dapat beroperasi di perairan dan darat, Anoa yang turut beroperasi dalam misi perdamaian internasional serta tank boat Antasena yang dilengkapi canon 105 mm dan memiliki daya hancur besar.
Produk lainnya yang ditampilkan antara lain, kendaraan lapis baja Badak yang dilengkapi canon 90 mm, prototype medium tank pengembangan Bersama dengan FNSS, senjata dan munisi yang telah memenangkan berbagai lomba tembak internasional, serta produk industrial seperti peralatan kapal laut, ekskavator, komponen transportasi dan alat mesin pertanian.
MAST Asia adalah event trade-show, konferensi pertahanan dan community enabler internasional terbesar di Jepang yang diikuti oleh industri pertahanan dari berbagai negara di dunia. Tahun depan akan diselenggarakan MAST Indo-Asia di India.
Ilustrasi - Pesawat CN235-220M pesanan Senegal [republika] ☆
Pemerintah Senegal dalam Forum Bisnis Indonesia-Senegal pertama di Dakar pada Rabu (7/6) menyampaikan minat untuk membeli pesawat CN-235, kapal feri dan kapal tanker, serta kereta api buatan Indonesia.
Hal itu disampaikan dalam keterangan pers dari Kementerian Luar Negeri RI yang diterima di Jakarta, Kamis.
Dalam pertemuan bisnis tersebut, pihak Senegal menunjukkan minat yang besar terhadap pembelian pesawat CN-235 yang ke-3 dan ke-4, serta penjajakan pemesanan kapal feri penumpang 500 kursi dan kapal tanker, kata Duta Besar RI untuk Senegal Mansyur Pangeran.
Selain itu, lanjut Dubes Mansyur, Senegal juga berminat untuk membeli kereta api buatan PT. INKA untuk proyek pembangunan prioritas "Plan Senegal Emergent" (PSE) di sektor perkeretaapian yang menghubungkan Dakar-Tambacounda dan Dakar-St. Louis.
Dia menambahkan, dalam pertemuan antarpelaku bisnis di Forum Bisnis Indonesia-Senegal itu Presiden Dewan Perkapalan Senegal juga menyampaikan keinginan untuk membeli tiga kapal buatan PT. PAL, yaitu satu kapal tanker ukuran 10 ribu ton dan dua kapal kargo ukuran 20 ribu ton.
Dubes Mansyur menyampaikan bahwa forum bisnis itu bertujuan untuk meningkatkan hubungan bilateral Indonesia-Senegal, khususnya di bidang perdagangan dan bisnis.
"Peristiwa ini menjadi catatan sejarah tersendiri, karena selama lebih dari sepuluh tahun menjalin hubungan bilateral, forum sejenis baru pertama kali diadakan," ujar dia.
Forum bisnis itu diharapkan dapat meningkatkan interaksi dan kegiatan saling kunjung antarpelaku bisnis untuk mencari peluang yang sangat terbuka antara kedua negara.
Forum bisnis tersebut dihadiri oleh sekitar 100 pelaku usaha yang bergerak di sektor pertanian, obat-obatan dan kosmetik, pesawat terbang, kereta api, tekstil, agro-industri, mainan anak, kelapa sawit, konstruksi, dan lainnya.
Peserta forum tidak hanya berasal dari Senegal, tetapi juga wakil-wakil kamar dagang dan industri (Kadin) dari negara-negara sekitar, yaitu Pantai Gading, Mali, Gambia, Cabo Verde dan Sierra Leone.
Forum bisnis di Dakar, Senegal itu merupakan bagian dari rangkaian "Africa Tour" kedua yang dilakukan oleh Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi di Nigeria dan dilanjutkan oleh Wamenlu RI A.M. Fachir di Senegal. "Africa Tour" tersebut akan dilanjutkan oleh pemerintah RI dengan kunjungan ke Kenya dan Ethiopia.
Kunker Wamenlu ke Senegal dan Kenya
Pesawat CN 235 PT DI ☆
Wakil Menteri Luar Negeri RI A.M. Fachir melakukan kunjungan kerja ke Senegal dan Kenya pada 7-10 Juni 2017 untuk memperkuat hubungan kerja sama ekonomi antara Indonesia dengan negara-negara di kawasan Afrika.
“Wamenlu RI akan berkunjung ke Senegal dan Kenya pada 7-10 Juni. Ini untuk menunjukkan komitmen Indonesia dalam meningkatkan hubungan dan kerja sama kita dengan negara-negara Afrika,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir di Jakarta, Jumat.
Menurut Arrmanatha, Pemerintah Indonesia ingin memperkuat kerja sama ekonomi dengan negara-negara Afrika karena Afrika mempunyai potensi besar dan merupakan pasar non-tradisional yang penting untuk Indonesia.
Direktur Kawasan Afrika Kementerian Luar Negeri Daniel Tumpal Simanjuntak menyampaikan bahwa Wamenlu Fachir dalam kunjungan kerjanya ke Senegal dan Kenya akan berfokus melakukan diplomasi ekonomi.
“Dalam kunjungan ini, kami juga akan mendorong kerja sama, salah satunya upaya untuk menjual produk-produk PT Dirgantara Indonesia,” ujar dia.
Daniel mengatakan bahwa Senegal dan Kenya merupakan negara mitra penting bagi Indonesia di kawasan Afrika barat.
“Salah satu agenda penting yang juga selalu didorong adalah Indonesia-Africa Forum. Forum ini akan diupayakan dilaksanakan di Indonesia untuk mendorong kerja sama ekonomi konkret antara Indonesia dengan negara-negara Afrika,” ucapnya.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyampaikan bahwa salah satu prioritas diplomasi ekonomi Indonesia pada 2017 adalah untuk meningkatkan hubungan ekonomi dengan negara-negara Afrika.
“Afrika merupakan kawasan yang memiliki potensi besar sehingga penting bagi Indonesia untuk terus meningkatkan dan memperluas kerja sama ekonomi di kawasan ini,” ucap Menlu Retno.
Diplomasi ekonomi pemerintah Indonesia untuk masuk dan mengembangkan kerja sama ekonomi ke wilayah Afrika pun dilakukan melalui berbagai pintu, termasuk melalui forum dan organisasi regional.
PT Dirgantara Indonesia (PT DI) merupakan salah satu industri pertahanan strategis dan salah satu BUMN yang bergerak dibidang industri pertahanan kedirgantaraan dan memiliki kemampuan dalam bidang rancang bangun, pengujian, produksi, perawatan, perbaikan dan modifikasi pesawat terbang, untuk itu TNI AU berkomitmen membantu pengembangan dan memanjukan industri pertahanan Indonesia.
Demikian dikatakan Asops Kasau Marsda TNI Barhim dalam sambutannya pada penandatanganan kerjasama (MoU) antara TNI AU dengan PT DI tentang penggunaan awak pesawat TNI AU untuk mendukung kegiatan PT DI, di Mabesau Cilangkap, Senin (22/5).
MoU TNI AU dan PT DI ditandandatangani oleh Asops Kasau Marsda TNI Barhim dengan Direktur Umum dan SDM PT DI Sukamto MBA, disaksikan para pejabat TNI AU dan Pejabat PT DI. Dikatakan, sesuai disposisi Kasau nomor H-421 tanggal 3 April 2017, pada prinsipnya setuju penggunaan tenaga penerbang TNI Angkatan Udara yang dituangkan dalam suatu piagam kerja sama. Penggunaan awak pesawat TNI Angkatan Udara pada dasarnya adalah untuk membantu kegiatan PT DI dalam mendukung tugas dan fungsi TNI Angkatan Udara.
Kerja sama ini meliputi penggunaan awak pesawat TNI Angkatan Udara untuk mendukung kegiatan PT DI dalam rangka perbaikan, perawatan, uji terbang pesawat TNI AU dan dalam rangka proses produksi, perbaikan, perawatan, uji terbang pesawat TNI Angkatan Udara, sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundang-undangan.
“Penyiapan awak pesawat untuk kegiatan dimaksud akan diatur agar tidak mengganggu kegiatan operasional TNI Angkatan Udara. Dalam hal ini pihak PT DI untuk dapat berkoordinasi lebih awal agar personel dapat disiapkan seoptimal mungkin”, jelas Asops Kasau.*Red
Pengembangan Pesawat dan Drone
Pada perhelatan International Defence Industry Fair (IDEF) 2017 yang diselenggarakan pada tanggal 9-12 Mei 2017 di Istanbul, Turkey, Direktur Utama PTDI, Budi Santoso menandatangani MoU dengan CEO Turkish Aerospace Industries, Inc (TAI), PhD. Temel KOTÃŒL.
MoU antara TAI dengan PTDI diantaranya :
★ Peningkatan avionik dan sayap untuk pesawat-pesawat CN235.
★ Pengembangan, sertifikasi dan produksi bersama pesawat N245.
★ Global supply chain untuk komponen CN235
★ Pengembangan bersama untuk pesawat tanpa awak kelas Medium Altitude Long Endurance (MALE). Drone serang ANKA TAI [Aviation Analysis Wing] ★ BUMN
✈ Buatan Bandung
✈ ground test N219 [def.pk/pt1v4t33r]
Pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) akan uji terbang perdana Mei ini. Sekarang, pesawat buatan Bandung ini tengah memasuki tahap ground test.
Ground test yang dilakukan meliputi tes bionik, elektronik, hidrolik, hingga mesin pesawat. Ground test sangat penting dilakukan untuk memastikan pesawat N219 benar-benar siap untuk diterbangkan perdana Mei ini.
"Uji coba ground testing sudah dimulai untuk persiapan uji terbang Insya Allah bulan ini," ujar Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo, saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (8/5/2017).
Mengenai lokasi uji terbang perdana pesawat N219, PTDI masih merahasiakan di mana tempat tersebut. Namun, ditargetkan pesawat N219 bisa melakukan uji terbang perdana bulan ini.
Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Andi Alisjahbana, menambahkan dilakukannya uji terbang perdana pesawat N219 tergantung dari terpenuhinya syarat-syarat saat ground test.
"Uji terbang perdana bukan perayaan jadi kami tidak menentukan tanggalnya, melainkan tergantung dari terpenuhinya syarat-syarat engineering dan ground test yang saat ini hampir selesai," kata Andi.
Harus Uji Terbang 300 Jam
[Dok. PTDI]
Pesawat N219 yang diproduksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), akan diuji terbang perdana Mei ini. PTDI akan melakukan uji terbang pesawat buatan Bandung ini hingga jam terbangnya mencapai 300 jam. Uji terbang dilakukan menggunakan dua pesawat N219.
Setelah berhasil melalui uji terbang selama 300 jam, nantinya pesawat N219 bisa mendapatkan sertifikat dari Kementerian Perhubungan agar bisa diproduksi massal.
"Nanti uji terbangnya harus bisa menempuh sampai sekitar total akumulasi 300 jam, supaya bisa meyakinkan pihak otoritas Kementerian Perhubungan pesawat bisa terbang," ujar Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo, saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (8/5/2017).
Sedikitnya ada dua prototipe pesawat N219 yang disiapkan PTDI untuk melakukan uji terbang. Pesawat pertama memasuki tahap ground test, sedangkan lainnya sedang tahap konstruksi.
Setelah selesai melewati ground test, prototipe pertama N219 dilakukan uji terbang perdana Mei ini, sedangkan prototipe N219 kedua ditargetkan uji terbang perdana tahun ini.
"Kedua mudah-mudahan tahun ini juga bisa kita terbangkan," ujar Arie.
Arie menambahkan, seluruh pengujian pesawat N219 bisa selesai paling lambat akhir tahun ini. Sehingga PTDI mendapatkan sertifikat dari Kementerian Perhubungan untuk memproduksi pesawat N219 secara massal.
"Kita target akhir tahun ini, tapi belum tahu bisa tercapai atau tidak. Mungkin di awal 2018, belum tahu, kami ingin step by step dulu," tutur Arie. (hns/wdl)
Diproduksi Massal Tahun Depan
Pesawat N219 besutan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) akan diproduksi massal di 2018 mendatang. Pesawat buatan Bandung ini tengah melakukan ground test dan ditargetkan dilakukan uji terbang Mei ini.
Produksi massal pesawat N219 bisa dilakukan setelah Kementerian Perhubungan menerbitkan sertifikat melalui berbagai pengujian yang diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun ini.
"Harapan kita 2018 bisa mulai produksi massal," kata Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (8/5/2017).
Jumlah pesawat N219 yang akan diproduksi, lanjut Arie, tergantung dari pesanan dari maskapai.
"Tentunya diharmonisasi dengan kebutuhan pasar dan kemampuan kita produksi," tambah Arie.
Meskipun masih perlu melewati serangkaian pengujian, pesawat N219 sudah dipesan, salah satunya oleh Trigana Air.
Namun, para maskapai harus bersabar hingga pesawat N219 mendapatkan sertifikat agar bisa diproduksi massal.
"Sudah ada beberapa MoU tertarik, khususnya dalam negeri. Sudah ada satu dari negara tetangga untuk pesawat ini, tapi harus tunggu sampai dapat sertifikasi," tutur Arie.
Dirancang Terbangi Daerah-daerah Terpencil
Pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) tengah melakukan rangkaian uji sebelum terbang perdana Mei ini.
Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo mengungkapkan, pesawat N219 nantinya menjadi angkutan udara ke daerah yang sulit dijangkau pesawat berbadan besar. Sehingga konektivitas antar daerah bisa semakin mudah.
"Kalau di daerah kan infrastrukturnya terbatas. Jadi kita bikin pesawat tidak butuh banyak ground suppport atau equipment khusus," ujar Arie saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (8/5/2017).
"Basic N219 pesawat perintis terjangkau untuk pengadaannya, terjangkau operasional cost-nya di daerah-daerah," tambah Arie.
Keunggulan utama yang diberikan pesawat N219, lanjut Arie, memiliki keunggulan bisa lepas landas dalam lintasan pendek. Sehingga dapat menjangkau daerah-daerah terluar Indonesia.
"Fitur utama yang kita mau jual pesawat yang gampang digunakan dan gampang dirawat," ujar Arie.(hns/ang)
Direncanakan Bisa Mendarat di Air
PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) berencana membuat pesawat N219 Amphibious Version. Pesawat ini merupakan pengembangan dari N219 yang nantinya bisa mendarat di air dan di darat.
Pesawat ini rencananya akan dimulai desainnya pada akhir tahun 2018 mendatang. Produksi pesawat N219 amfibi ini akan dimulai setelah pesawat N219 mendapatkan sertifikasi.
"Kalau ada kebutuhan itu akan kita desain setelah selesai sertifikat di N219. Kita dapatkan sertifikasi dulu, kalau sudah selesai baru amfibi. Harapan kita 2018 akhir kita mulai desain," jelas Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Minggu (19/3/2017).
Pesawat N219 amfibi ini memiliki panjang badan 16,74 meter dengan tinggi 6,18 meter. Sedangkan lebar sayap pesawat 19,50 meter.
Lebar kabin dalam pesawat 1,80 meter dengan tinggi 1,71 meter. Sedangkan panjang kabin pesawat 6,65 meter dengan kapasitas penumpang 19 orang.
Agar bisa mendarat di air, bagian bawah pesawat dilengkapi dengan tambahan yang mirip seperti perahu nelayan. Jika ingin melakukan pendaratan di darat, roda pesawat akan keluar dari dari landing gear.
"Paling maksimum tinggal penambahan, tadinya sertifikasi landing di runway, kita mesti bisa landing di air ada beberapa development dan uji ulang pesawat," kata Arie. (dna/dna)
✈ N219 [PTDI]
Mimpi bangkitnya dunia dirgantara nasional segera terwujud. Akhir Mei depan, pesawat N-219 buatan PT Dirgantara Indonesia (DI) dan Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (Lapan) dijadwalkan mulai mengangkasa. Penerbangan perdana itu rencananya dipimpin test pilot kawakan PT DI Ester Gayatri Saleh.
Perkembangan terkini pesawat berkapasitas 19 penumpang itu disampaikan Kepala Pusat Teknologi Penerbangan (Pustekbang) Lapan Gunawan Setyo Prabowo. Dia mengatakan, sempat beredar kabar N-219 akan terbang bertepatan dengan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) 2017 di Makassar pada Agustus mendatang.
‘’Sepertinya terbang perdana di Bandung,’’ jelasnya, Rabu (19/4). Rute paling jauh, pesawat N-219 akan terbang dari markas PT DI di Bandung menuju Kantor Pustekbang Lapan di Rumpin, Bogor. Saat ini sedang dilakukan perpanjangan landasan pacu di lapangan terbang Rumpin, Bogor.
Untuk bisa terbang reguler, N-219 perlu lulus sertifikasi Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Nah untuk bisa lulus sertifikasi, pesawat itu harus terbang selama 350 jam. Sebagai permulaan, tahun ini rencananya N-219 akan uji terbang 25 jam setiap bulan.
‘’Kami siapkan dua pesawat N-219 untuk mengejar target jam terbang 350 itu,’’ katanya. Dengan adanya dua unit pesawat, tugasnya bisa dibagi rata masing-masing 175 jam terbang. Saat uji terbang nanti, pesawat hanya akan ditumpangi pilot dan ko-pilot.
Selama proses uji terbang akan dilakukan pencatatan kondisi pesawat. Gunawan berharap terbang perdana dan terbang untuk mengejar sertifikasi berjalan lancar. Menurut dia, kolaborasi antara Lapan dengan PT DI untuk menggarap N-219 selama ini berjalan cukup baik.
Saat ini tim teknis yang menggarap N-219 sedang berfokus pada engine run. Setelah selesai proses penyiapan engine run, N-219 akan melakukan tes jalan di landasan pacu.
Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti Jumain Ape mengatakan, setelah proses uji terbang dan lulus sertifikasi, pesawat itu bisa diproduksi masal. Dia berharap perkembangan N-219 bisa menjadi kado spesial saat peringatan Hakteknas 2017 di Makassar nanti. (wan/oki/jpg)
Dari Helikopter Hingga Kapal Siluman
Helikopter SAR Tempur TNI AU [Kompas] ★
Produk-produk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) strategis kini mulai banyak ditemui, mulai dari helikopter sampai kapal siluman. Produksi karya anak bangsa ini sempat vakum beberapa tahun lalu.
Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN, Harry Fajar Sampurno, bercerita soal pentingnya produk strategis BUMN.
"Hampir 60-70% kontribusi industri dari BUMN, manufaktur itu hampir seluruhnya BUMN, di luar kita kayanya belum ada. Bikin kapal 120 galangan, yang 4 besar adalah BUMN, sisanya di Batam. Pesawat terbang satu-satunya, dan industri pertahan dan lain-lain," katanya saat berbicang santai di Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (11/4/2017).
Menurutnya, banyak yang tidak tahu besarnya peran BUMN di industri nasional. Supaya makin banyak memberikan kontribusi, BUMN akan didorong untuk bersinergi dengan Kementerian Perindustrian.
Tahun 2016, sudah ada perbaikan, kapal-kapal pesanan Kementerian Pertahanan yang mangkrak, ini mulai di-deliver tahun 2016. "Di DKB (Dok Kodja Bahari) dulu itu demo terus, akhirnya direksi kita ganti, yang baru pelan-pelan berhasil," jelasnya.
"Yang membanggakan Di 2016, PT PAL mulai bangkit dengan ekspor kapal perang terbesar, ada dua, satu tahun lalu, kemudian tahun ini itu yang untuk Filipina. Lalu satu lagi kapal dengan teknologi yang canggih dengan teknologi hantu, jadi dia tidak terdeteksi radar, itu namanya Perusak Kawal Rudal (PKR), yang kemarin Jumat diserahkan dari Kemhan ke Angkatan Laut, bulan lalu diserahkan dari PT PAL ke Kemnhan," ujarnya.
Kemudian PT Dirgantara Indonesia (PTDI), kata Harry, di tahun yang sama mulai ekspor ke Filipina, Thailand, Senegal, Malaysia, Turki. Ada juga helikopter baru untuk TNI AU, dan untuk Basarnas.
"Sayangnya semuanya tidak semulus yang kita kira, kita ada permasalahan seperti PT PAL masalah dengan KPK. Kedua Hubungan PTDI dengan TNI AU juga belum bagus, ekspor keluar negeri sudah banyak, yang dalam negeri belum terpakai, masih ada beberapa yang berhenti," katanya.
Ia mengatakan, sejak PTDI ambruk di 1998, pemerintah sama sekali tidak boleh membantu. Sampai 2006 produsen pesawat terbang itu mulai bangkit.
"Kemudian 2006 restrukturisasi dimulai, seperti SDM, keuangan, produksi dan operasional. Untuk keuangan, di BUMN kan ada utang yang di-convert ke equity, PMN dan semua dijalani," ungkapnya. (ang/ang)