JAS 39 Gripen ☆
Indonesia berencana mengganti seluruh pesawat tempur dan kapal tempur yang dinilai telah usang atau berusia di atas 30-40 tahun. Realisasi tersebut masih menunggu keputusan Presiden Joko Widodo serta persetujuan dari DPR.
Demikian penegasan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu usai melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Pertahanan Swedia Carl Anders Peter Hultqvist di Kalberg Castle, Stockholm, Swedia, Senin siang (8/5).
Menhan mengungkapkan sangat tertarik dengan sejumlah industri militer Swedia, seperti persenjataan, sistem teknologi militer, termasuk pesawat tempur JAS 39 Gripen yang diproduksi oleh Saab. “Prinsipnya kita akan mengganti alutsista yang sudah tua,” ujar Menhan.
Namun, lanjut Menhan, wacana penggantian alutsista itu tidak bisa dilakukan instan. Ada tahapan yang perlu ditempuh sebelum laporan disampaikan ke Presiden, yakni melalui perundingan terbatas antara sejumlah perusahaan industri pertahanan asal Indonesia dan Swedia.
Kedatangan Menhan ke Swedia merupakan tindak lanjut dari persetujuan kerja sama dalam bidang pertahanan yang telah ditandangani Menhan RI bersama Menhan Swedia di Kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta, pada awal Desember 2016.
“Semoga apa yang dibicarakan ini bisa terlaksana. Sebagai wujud keseriusan kami untuk kerja sama, di sini kita bawa 5 (lima) Direktur perusahaan industri pertahanan lokal dan pejabat utama dari Kementerian Pertahanan Republik Indonesia,” ujarnya.
Menhan Swedia mengapresiasi kedatangan Menhan RI beserta rombongan. Menhan Swedia menilai pertemuan kedua Menhan dapat meningkatkan mutu pertemuan sebagai mitra strategis, khususnya di bidang pertahanan.
“Nantinya kami akan melakukan pertemuan lebih dalam lagi. Kami juga punya banyak agenda dan kerja sama lain. Terimakasih atas dukungan dan kunjungan ini,” lanjut Menhan Swedia.
Hal senada dikatakan Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kemhan Dr. Sutrimo Sumarlan. Menurutnya, apabila Indonesia telah memastikan untuk membeli alutsista jet tempur dari Swedia, maka harus ada beberapa hal prasyarat pemenuhan kebutuhan persenjataan yang telah disepakati dalam Memorandum of Undertanding (MoU) akhir 2016.
“Sesuai UU Pertahanan Negara, yaitu harus ada kesediaan untuk memberikan produksi offset, koordinasi dengan sistem G to G, dan transfer of technology (ToT),” ungkap Dirjen Pothan.
Syarat lain yang perlu diperhatikan ialah transfer alih teknologi wajib melibatkan industri pertahanan lokal dari BUMN dan swasta. Bahkan, Swedia juga harus memastikan adanya garansi tidak akan terjadi potensi embargo di masa depan serta jaminan kelangsungan suku cadang maupun sistem pemeliharaan alutsista.
Lebih jauh diungkapkan bahwa TNI memiliki banyak perawat tempur berusia di atas 30 tahun serta kapal perang yang berumur lebih 40 tahun. Jika tidak ada aral, maka alutista darat dan udara usang itu akan diganti dengan alustista baru yang dibeli dari Swedia.
“Hanya saja itu masih wacana. Tahun depan baru kita pikirkan mengenai alutista apa saja yang sesuai kebutuhan kita. Intinya segala kemungkinan itu (wacana pembelian) tetap menunggu setelah dilaporkan ke Presiden,” jelas Dirjen Pothan.
Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Kemhan Laksda TNI Leonardi menambahkan, tujuan kedatangan Menhan Ryamizard Ryacudu dan sejumlah pejabat utama Kemhan ialah untuk menjajaki kerja sama bidang pertahanan bersama stakeholder dari industri pertahanan Swedia.
“Contohnya, Swedia menawarkan kemungkinan kerja sama dalam pengadaan kapal, sementara kita juga sudah punya program-program untuk pengadaan kapal itu. Kita masih memikirkan apakah akan memilih Swedia atau negara lain,” ujar Kabaranahan menutup pembicaraan. (RAF)
✈ Buatan Bandung
✈ ground test N219 [def.pk/pt1v4t33r]
Pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) akan uji terbang perdana Mei ini. Sekarang, pesawat buatan Bandung ini tengah memasuki tahap ground test.
Ground test yang dilakukan meliputi tes bionik, elektronik, hidrolik, hingga mesin pesawat. Ground test sangat penting dilakukan untuk memastikan pesawat N219 benar-benar siap untuk diterbangkan perdana Mei ini.
"Uji coba ground testing sudah dimulai untuk persiapan uji terbang Insya Allah bulan ini," ujar Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo, saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (8/5/2017).
Mengenai lokasi uji terbang perdana pesawat N219, PTDI masih merahasiakan di mana tempat tersebut. Namun, ditargetkan pesawat N219 bisa melakukan uji terbang perdana bulan ini.
Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Andi Alisjahbana, menambahkan dilakukannya uji terbang perdana pesawat N219 tergantung dari terpenuhinya syarat-syarat saat ground test.
"Uji terbang perdana bukan perayaan jadi kami tidak menentukan tanggalnya, melainkan tergantung dari terpenuhinya syarat-syarat engineering dan ground test yang saat ini hampir selesai," kata Andi.
Harus Uji Terbang 300 Jam
[Dok. PTDI]
Pesawat N219 yang diproduksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), akan diuji terbang perdana Mei ini. PTDI akan melakukan uji terbang pesawat buatan Bandung ini hingga jam terbangnya mencapai 300 jam. Uji terbang dilakukan menggunakan dua pesawat N219.
Setelah berhasil melalui uji terbang selama 300 jam, nantinya pesawat N219 bisa mendapatkan sertifikat dari Kementerian Perhubungan agar bisa diproduksi massal.
"Nanti uji terbangnya harus bisa menempuh sampai sekitar total akumulasi 300 jam, supaya bisa meyakinkan pihak otoritas Kementerian Perhubungan pesawat bisa terbang," ujar Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo, saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (8/5/2017).
Sedikitnya ada dua prototipe pesawat N219 yang disiapkan PTDI untuk melakukan uji terbang. Pesawat pertama memasuki tahap ground test, sedangkan lainnya sedang tahap konstruksi.
Setelah selesai melewati ground test, prototipe pertama N219 dilakukan uji terbang perdana Mei ini, sedangkan prototipe N219 kedua ditargetkan uji terbang perdana tahun ini.
"Kedua mudah-mudahan tahun ini juga bisa kita terbangkan," ujar Arie.
Arie menambahkan, seluruh pengujian pesawat N219 bisa selesai paling lambat akhir tahun ini. Sehingga PTDI mendapatkan sertifikat dari Kementerian Perhubungan untuk memproduksi pesawat N219 secara massal.
"Kita target akhir tahun ini, tapi belum tahu bisa tercapai atau tidak. Mungkin di awal 2018, belum tahu, kami ingin step by step dulu," tutur Arie. (hns/wdl)
Diproduksi Massal Tahun Depan
Pesawat N219 besutan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) akan diproduksi massal di 2018 mendatang. Pesawat buatan Bandung ini tengah melakukan ground test dan ditargetkan dilakukan uji terbang Mei ini.
Produksi massal pesawat N219 bisa dilakukan setelah Kementerian Perhubungan menerbitkan sertifikat melalui berbagai pengujian yang diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun ini.
"Harapan kita 2018 bisa mulai produksi massal," kata Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (8/5/2017).
Jumlah pesawat N219 yang akan diproduksi, lanjut Arie, tergantung dari pesanan dari maskapai.
"Tentunya diharmonisasi dengan kebutuhan pasar dan kemampuan kita produksi," tambah Arie.
Meskipun masih perlu melewati serangkaian pengujian, pesawat N219 sudah dipesan, salah satunya oleh Trigana Air.
Namun, para maskapai harus bersabar hingga pesawat N219 mendapatkan sertifikat agar bisa diproduksi massal.
"Sudah ada beberapa MoU tertarik, khususnya dalam negeri. Sudah ada satu dari negara tetangga untuk pesawat ini, tapi harus tunggu sampai dapat sertifikasi," tutur Arie.
Dirancang Terbangi Daerah-daerah Terpencil
Pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) tengah melakukan rangkaian uji sebelum terbang perdana Mei ini.
Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo mengungkapkan, pesawat N219 nantinya menjadi angkutan udara ke daerah yang sulit dijangkau pesawat berbadan besar. Sehingga konektivitas antar daerah bisa semakin mudah.
"Kalau di daerah kan infrastrukturnya terbatas. Jadi kita bikin pesawat tidak butuh banyak ground suppport atau equipment khusus," ujar Arie saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (8/5/2017).
"Basic N219 pesawat perintis terjangkau untuk pengadaannya, terjangkau operasional cost-nya di daerah-daerah," tambah Arie.
Keunggulan utama yang diberikan pesawat N219, lanjut Arie, memiliki keunggulan bisa lepas landas dalam lintasan pendek. Sehingga dapat menjangkau daerah-daerah terluar Indonesia.
"Fitur utama yang kita mau jual pesawat yang gampang digunakan dan gampang dirawat," ujar Arie.(hns/ang)
Direncanakan Bisa Mendarat di Air
PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) berencana membuat pesawat N219 Amphibious Version. Pesawat ini merupakan pengembangan dari N219 yang nantinya bisa mendarat di air dan di darat.
Pesawat ini rencananya akan dimulai desainnya pada akhir tahun 2018 mendatang. Produksi pesawat N219 amfibi ini akan dimulai setelah pesawat N219 mendapatkan sertifikasi.
"Kalau ada kebutuhan itu akan kita desain setelah selesai sertifikat di N219. Kita dapatkan sertifikasi dulu, kalau sudah selesai baru amfibi. Harapan kita 2018 akhir kita mulai desain," jelas Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Minggu (19/3/2017).
Pesawat N219 amfibi ini memiliki panjang badan 16,74 meter dengan tinggi 6,18 meter. Sedangkan lebar sayap pesawat 19,50 meter.
Lebar kabin dalam pesawat 1,80 meter dengan tinggi 1,71 meter. Sedangkan panjang kabin pesawat 6,65 meter dengan kapasitas penumpang 19 orang.
Agar bisa mendarat di air, bagian bawah pesawat dilengkapi dengan tambahan yang mirip seperti perahu nelayan. Jika ingin melakukan pendaratan di darat, roda pesawat akan keluar dari dari landing gear.
"Paling maksimum tinggal penambahan, tadinya sertifikasi landing di runway, kita mesti bisa landing di air ada beberapa development dan uji ulang pesawat," kata Arie. (dna/dna)
✈ Kendaraan Tempur kerjasama FNSS - Pindad
Dari forum defence.pk beredar alutsista terbaru pada pameran IDEF 2017. Turki seakan menunjukan ke dunia, perkembangan alutsista yang cukup pesat. Dari beberapa foto nampak karya anak bangsa Turki dari UAV serang (Anka), MBT Altay dengan tambahan proteksi baru, Helikopter Atak, beberapa model kendaraan tempur, rudal, radar dan alutsista lainnya.
Yang menarik buat pemerhati militer Indonesia, adanya kendaraan tempur medium tank kerja sama FNSS bersama PT Pindad. Dari gambar nampak sekilas bentuk MMWT yang nantinya akan diproduksi masal di Indonesia. KASAD mengatakan bahwa medium tank buatan PT Pindad akan menggantikan light tank usang TNI AD (kemungkinan besar AMX 13).
Dari foto nampak MMWT (Modern Medium Weight Tank) menggunakan kubah senjata XC 8 105HP besutan CMI, yang mana merupakan pengembangan kubah XC XP 105 dan pertama kali diperkenalkan pada tahun 2014. Kubah senjata modular ini dapat diganti dengan kaliber 120 mm.
Selain itu nampak proteksi MMWT yang mampu menahan peluru kecil maupun sedang.  |
| [ozi2000/def,pk] |
✈ Garuda Militer
Pengolah air bersama solar menjadi bahan bakar
Eneco Plasma Fusion ●
Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) melaksanakan Uji coba Alat Eneco Plasma Fusion, Uji coba dipimpin langsung oleh Presiden and CEO Eneco Holdings Mr. Yasuhiro Yamamoto bertempat di gedung Eneco Plasma Fusion Koarmatim, Ujung, Surabaya. Senin, (08/05/2017).
Alat Eneco Plasma Fusion ini merupakan alat dari perusahaan Eneco Holdings dari Jepang yang mampu memperkecil anggaran, dan dinilai dapat menghemat penggunaan bahan bakar solar serta hasilnya juga dapat digunakan untuk berbagai macam kendaraan berbahan bakar solar, ujar Yasuhiro.
Hal ini karena mesin tersebut dapat mengolah 50 persen air dan 50 persen solar menjadi bahan bakar yang dapat digunakan pada semua mesin yang menggunakan solar. Dalam waktu 24 jam, mesin ini dapat menampung 12.000 liter air dan solar.
Selain itu, di Jepang sendiri saat ini belum banyak perusahaan yang bisa melakukan pencampuran proses air menjadi bahan bakar karena harus mendapatkan izin atau lisensi dari pemerintah, dan hanya perusahaan Eneco Holdings yang mampu lulus uji lisensi dari pemerintah Jepang.
Teknologi Eneco Plasma Fusion merupakan teknologi yang bisa merealisasikan rasio percampuran air sekitar 70%, baik air ledeng maupun air sumur dengan proses penyulingan bahan bakar yang telah dilakukan “Plasma Fusion” dengan ditambahkan air kembali pembakaran tidak berubah.
Komisaris PT. Eneco Holdings. INC Bpk. Bambang Sulistyo dalam wawancara di hadapan media menyampaikan bahwa peralatan ini murni di hibahkan kepada TNI AL, dan sistem kerja peralatan ini mempunyai sistem kerja secara sistematik antara air dan solar dengan hasil 100 % hasilnya solar. Dan apabila yang dihasilkan mempunyai masalah pihak kami akan mengasuransikan satu juta US, dan alat ini hanya dipakai untuk mesin diesel, serta rencana peralatan ini untuk pertam kalinya di Armatim sangat bermanfaat untuk digunakan sebagai bahan bakar KRI.
Sebelum acara di mulai diadakan syukuran potong tumpeng oleh Mr. Yasuhiro Yamamoto yang diserahkan kepada Kepala Dinas Material Perbekalan (Kadismatbek) Koarmatim Kolonel Laut (T) Budiyono.Hadir dalam acara tersebut, Kadismatbek Koarmatim, Letkol Laut (KH/W) Uciek Darmayani yang sehari-harinya menjabat sebagai Pamen Slog Koarmatim, dan seluruh staf Eneco Holdings beserta undangan.
SSV kedua produksi PAL Indonesia [update.ph] ✮
Kapal perang ekspor "Strategic Sealift Vessel" (SSV) jenis "Landing Platform Dock" (LPD) buatan PT PAL Indonesia tiba di Pelabuhan Manila, atau negara pemesan Filipina pada Senin (8/5) pukul 11.00 waktu setempat.
Kapal dengan nama BRP Davao Del Sur LD 602 ini adalah pesanan yang kedua Filipina kepada PT PAL.
Kepala perjalanan eskpor kedua yang juga General Manager Divisi Kapal Niaga PT PAL Indonesia Satriyo Bintoro, Senin di Manila mengaku bersyukur atas tibanya kapal ekspor kedua di Pelabuhan Manila, Filipina, dan membuktikan produk Indonesia mampu bersaing dengan galangan Internasional terkait ketepatan waktu.
"Alhamdulillah selama perjalanan tidak ada kendala berarti, dan tiba dengan selamat di Pelabuhan Manila," kata Bintoro yang ditemui di atas kapal.
Bintoro mengatakan tidak ada kendala berarti selama perjalanan, dan keberhasilan ekspor kedua ini karena adanya kerja sama semua tim PT PAL Indonesia serta krew kapal.
Sementara Pimpinan Proyek SSV-2, Adenandra mengatakan kinerja mesin dan beberapa kecanggihan kapal perang telah diuji selama perjalanan, dan berjalan baik.
"Kami selama perjalanan dari Surabaya ke Manila menggunakan kecepatan antara 14 knot hingga 15 knot, dan telah menguji beberapa teknologi, seperti balasting kapal," katanya.
Ia berharap, tidak adanya kendala mesin atau teknologi selama perjalanan bisa membuat negara pemesan, Filipina memberikan apresiasi dan kembali memesan kapal ke galangan nasional.
Sebelumnya, kapal secara seremonial dilepas pada Selasa (2/5) oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacud di Dermaga Semarang, Ujung Surabaya, dan mulai diberangkatkan atau melakukan perjalanan antarnegara pada Rabu (3/5) pukul 09.00 WIB pagi.
Kapal menempuh waktu perjalanan selama lima hari dengan melintas Laut Jawa, Selat Makasar hingga memasuki perbatasan Indonesia-Filipina atau Laut Celebes.
Kapal juga sempat berhenti untuk melakukan beberapa pengujian kecanggihan kapal, seperti keseimbangan atau balasting di dekat Pulau Karangjamuang.
Kapal yang membawa 112 krew dari PT PAL Indonesia, 22 Anak Buah Kapal (ABK), lima petugas katering dan 115 krew dari Angkatan Laut Filipina itu juga sempat melakukan beberapa manuver kecepatan, dari batas kecepatan awal 16 knots.
Filipina puas
BRP 602 Davao Del Sur [update.ph]
Filipina mengaku puas pada kapal perang buatan PT PAL Indonesia yang dipesannya, setelah kapal kedua pesanan mereka "Strategic Sealift Vessel" (SSV) BRP Davao Del Sur LD 602 tiba di Pelabuhan Manila.
"Kami dari Filipina mengapresiasi dan sangat berterima kasih dengan produk PT PAL Indonesia dan selama perjalanan kondisi cuaca juga cukup bagus," kata Komandan Satuan Tugas Pengadaan Kapal SSV dari Filipina, Richard N Gonzaga, di Pelabuhan Manila, Senin.
Ia mengatakan, ekspor kedua kali ini sama seperti perjalanan pertama, yakni aman. "Kami akui ini merupakan perjalanan yang sangat bagus dari Surabaya ke Manila," kata Gonzaga yang sekaligus Komandan Kapal BRP Davao Del Sur LD 602.
Pejabat Pelatihan Anak Buah Kapal (ABK) Filipina Bonifacio Manzano mengaku secara umum operasional mesin kapal sangat bagus dan layak sehingga tidak mengalami kendala berarti selama perjalanan.
"Secara umum tidak ada masalah untuk mesin kapal selama perjalanan, dan saya rasa sangat bagus mesin dan perjalanan ini," kata Manzano yang juga Palaksa Kapal BRP Davao Del Sur LD 602.
Perjalanan laut dari Surabaya ke Manila ditempuh dengan melintasi Laut Jawa dan Selat Makasar kemudian Laut Sulawesi dan Laut Cina sebelum berlabuh dan lego jangkar di Pelabuhan Manila.
Perjalanan eskpor kedua sebelumnya dilepas Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu pada Selasa (4/5) di Dermaga Semarang, Ujung Surabaya, Jawa Timur.
Awak Angkatan Laut Filipina yang mengikuti perjalanan ini ada 115 orang, ditambah 112 awak PT PAL Indonesia, dan 22 Anak Buah Kapal (ABK), serta lima petugas katering.
BRP Davao Del Sur LD 602 adalah kapal perang pesanan kedua Filipina, sedangkan pesanan pertama diberi nama Tarlac, dan tiba di Manila pada 13 Mei 2016.
✈ Ilustrasi N219 Amfibi [PTDI]
Indonesia memiliki pasar dan peluang yang sangat besar dalam industri aeronautika. Hal tersebut disampaikan Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin saat memberikan sambutan Focus Group Discussion (FGD) bertemakan Kesiapan Komunitas Dirgantara Indonesia (Industri, MRO, IAEC, INACOM, Regulator) dari Teknis, Project Management dan Bisnis dalam Menyambut Program Strategis Nasional.
Kegiatan berlangsung di Auditorium Balai Pertemuan Dirgantara Kantor Pusat LAPAN, Jakarta, Kamis (04/05). Acara ini bertujuan untuk mengkaji pesawat N219 varian amfibi.
Thomas juga menjelaskan program prioritas nasional dan proyek strategis nasional bisa selaras. Hal tersebut dapat memacu dan mendorong cita-cita dalam industri penerbangan yang maju mandiri. N219 diharapkan bisa mendarat di pulau kecil dan perairan.
Hal ini sesuai harapan Presiden Joko Widodo agar selanjutnya dikembangkan pesawat kelas menengah dengan payload 30 sampai 60 orang. Keinginan itu pernah disampaikannya saat meninjau proyek N219. Ada cita-cita dan komitmen kuat, sehingga dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) telah dicantumkan program N219, N245, N270.
Ditjen Penguatan Inovasi RistekDikti, Jumain Appe mengatakan, N219 merupakan kebangkitan penerbangan nasional yang kedua setelah Indonesia berhasil menerbangkan pesawat buatan bangsa N-250 Gatotkaca. Karena, secara spesifik negara indonesia yang terdiri dari kepulauan memerlukan dukungan nasional dalam transportasi penerbangan. Tipe daerahnya dengan jarak pendek yang membutuhkan konektivitas agar terwujud perekonomian yang merata. N219 sangat tepat, industri komponen nasional perlu dikembangkan untuk mendukung pembuatan N219.
Berdirinya Indonesia Aeronautics Engineering Centre (IAEC) sangat penting dalam mendorong industri penerbangan secara penuh. Material yang dibuat oleh industri komponen dalam negeri harus dikembangkan untuk menyokong proyek penerbangan. Sementara itu, Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan menerangkan, “Kita harus mampu membuat komponen dalam negeri. Meningkatkan konten lokal akan menjadikan kemandirian dalam penguasaan teknologi penerbangan pada khususnya.”
LAPAN menginisiasi kegiatan ini karena kerja sama dengan IEAC sangat diperlukan untuk mendorong industri dalam negeri. Langkah ini untuk menjadikan bangsa ini mandiri dalam bidang teknologi penerbangan dan antariksa. Diskusi sehari ini selain membahas mengenai N219-A (Amfibi), juga dikaji kelayakan pengembangannya. Rencana pengembangan N219 dikupas mulai dari aspek teknis, project management, dan bisnis.
Combat Boat yang diangkut KRI Banda Aceh 593 untuk mendukung operasi pengamanan di wilayah Utara NKRI. [Dispen Kolinlamil] ★
KRI Banda Aceh 593 yang dikomandani Letkol Laut (P) Whisnu Kusardianto, S.E. bersama prajuritnya berlayar meninggalkan pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (20/4), guna mendukung operasi Serpas (pergeseran pasukan) pengamanan wilayah perbatasan (sektor utara) Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Papua Nugini.
Kali ini KRI Banda Aceh 593 rencananya akan membawa pasukan TNI Angkatan Darat dari Yonif 410/Alugoro Kodam IV Diponegoro yang dimuat dari pelabuhan Semarang, dan selanjutnya KRI akan bergerak menuju Surabaya untuk memuat pasukan dari Yonmek 512/Quratara Yudha Kodam V Brawijaya kemudian di Makassar juga akan memuat lagi Yonif 432 Para Raider di pelabuhan Makassar.
Ketiga batalyon ini yang berjumlah ribuan personel akan di bawa ke wilayah Utara NKRI untuk melaksanakan tugas pengamanan wilayah perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini.
Dalam pelayaran ke wilayah timur KRI Banda Aceh 593 selain membawa pasukan, juga mengangkut logistik dan Alut yang dimuat dari Jakarta untuk memaksimalkan pelaksanakan pengamanan wilayah di bagian Utara Indonesia, diantaranya 5 unit sea rider ukuran 11 meter yang akan diturunkan di Ambon, di Sorong, dan di Manokwari. Sedangkan 3 combat boat dengan peruntukkan 2 untuk TNI AD di Sorong dan di Biak serta 1 lagi untuk TNI Angkatan Laut di Manokwari.
Beberapa unit Sea Raider ukuran 11 meter yang diangkut KRI Banda Aceh 593 untuk mendukung operasi pengamanan di wilayah Utara NKRI. [Dispen Kolinlamil]
Selesai membawa pasukan hingga titik terakhir di Jayapura, nanti kembalinya KRI Banda Aceh 593 akan memuat lagi pasukan TNI Angkatan Darat yang telah selesai malaksanakan tugas Pamtas dari Jayapura untuk dikembalikan pulang ke Home base nya yaitu di Makassar Yonif 700 Raider, di Surabaya Yonmek 516 Caraka, dan terakhir di Belawan Yonif 122 Tombak Sakti.
Dalam operasi ini KRI Banda Aceh 593 meninggalkan pangkalan Kolinlamil melakukan pelayaran kurang lebih selama 61 hari baru kembali lagi ke pangkalan Kolinlamil Jakarta untuk menunggu perintah operasi selanjutnya.
Beberapa titik pelabuhan/pangkalan TNI Angkatan Laut yang di singgahi yaitu dari Jakarta - Semarang – Surabaya – Makassar – Ambon – Sorong – Manokwari – Biak – Jayapura. Kemudian nanti kembalinya Jayapura - Sorong – Ambon – Makassar – Surabaya – Belawan – Jakarta.
KRI Banda Aceh 593 ini adalah salah satu kapal jenis LPD produksi dalam negeri di bawah binaan Kolinlamil satuan operasi Satlinlamil Jakarta yang sangat aktif dalam melaksanakan tugas operasi baik di dalam maupun di luar negeri.