✈️ Medium Tank [FNSS]
Medium tank buatan PT Pindad (Persero) dan perusahaan asal Turki FNSS hadir dalam pameran internasional IDEF International Defence Industry Fair 2017 di Turki 9-12 Mei lalu. Pindad dan FNSS membuat prototipe medium tank dengan skema project development.
Kehadiran medium tank buatan Pindad dan FNSS di IDEF 2017 merupakan kali pertamanya dikenalkan ke publik.
"Itu memang pengenalan pertamanya medium tank. Jadi semacam launching pertama medium tank kita di sana (Turki) duluan," jelas Kepala Program Pengembangan Medium Tank Pindad, Windhu Paramarta, saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Rabu (17/5/2017).
Kerja sama pengembangan medium tank antara Pindad dan FNSS akan menghasilkan dua prototipe kendaraan perang. Medium tank yang dipamerkan di Turki merupakan prototipe pertama medium tank kolaborasi kedua negara.
Medium tank [FNSS]
"Pertama kita bikin bareng sama FNSS untuk verifikasi dan uji coba internal," ujar Windhu.
Untuk prototipe kedua, lanjut Windhu, tengah dibuat di Bandung dan tengah memasuki tahap pembuatan badan tank. Prototipe medium tank pertama akan disimpan di Turki menjadi milik FNSS, dan prototipe medium tank kedua akan menjadi milik Pindad.
"Jadi yang pertama Pindad bikin sama FNSS, yang kedua kita bikin sendiri," tutur Windhu.
MMWT [sweeneygov]
Pembuatan medium tank kolaborasi antara Pindad dan FNSS terbilang sangat cepat. Pasalnya, hanya dibutuhkan waktu sekitar satu setengah tahun untuk melihat bentuk utuh dari medium tank tersebut.
"Turki pembuatan di 2015 mulai inisiasi mereka 2015 inisiasi itu November, Desember planning. Perancangan Februari 2016 itu mulai rancangan, kalau mulai pembuatan akhir 2016 selesai April. Ini satu tahun setengah sudah jadi," kata Windhu. (wdl/wdl)
Dari perusahaan China
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara (ketiga kanan) berjabat tangan dengan Vice President of China Aerospace Science and Technology Corporation Yang Baohua (kiri), didampingi CEO Pasifik Satelit Nusantara Adi Rahman Adiwoso (kanan) dan CEO PT Indosat Alexander Rusli (kedua kanan) seusai penandatanganan kesepakatan pada acara Asia Pasific Satellite Communications System International Conference (APSAT) 2017 di Jakarta, Rabu (17/5/2017). (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa) ★
PT Indosat Tbk (Indosat Ooredoo) dan PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) melalui perusahaan patungan PT Palapa Satelit Nusa Sejahtera (PSNS) menandatangani kontrak pembelian satelit dengan produsen satelit asal China, China Great Wall Industry Corporation (CGWIC) di Jakarta, Rabu.
Penandatanganan kontrak pembelian senilai sekitar 220 juta dolar AS itu disaksikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara di sela Asia Pacific Satellite Communications System International Conference (APSAT) 2017.
President Director & CEO Indosat Ooredoo Alexander Rusli mengatakan satelit baru yang diberi nama Palapa Nusantara 1 atau Palapa-N1 itu akan diposisikan sebagai generasi penerus dari satelit Palapa-D pada slot orbit 113 derajat Bujur Timur.
"Ini satelit keempat yang pernah diluncurkan slot tersebut. Sudah financial close, jadi 2020 sudah ada satu pengganti sehingga layanan yang diberikan kepada pelanggan berjalan lancar," katanya.
Alex menuturkan satelit Palapa-N1 akan mengoptimalkan sumber daya spektrum yang ada untuk menyediakan layanan penyiaran (broadcast) dan pita lebar (broadband) di seluruh wilayah Indonesia dengan menggunakan teknologi baru yakni High Throughput Satellite (HTS).
Ia menambahkan bahwa pembelian satelit baru itu juga menegaskan sebagai penyedia layanan satelit sekaligus komitmen perusahaan untuk mempercepat proses penetrasi "broadband" di Indonesia.
"Target kami adalah untuk memastikan semua pelanggan eksisting mendapatkan layanan yang lancar. Kami harap dengan teknologi HTS, kami bisa menjadi bagian dari solusi broadband di Indonesia," katanya.
Alex menuturkan, dengan nilai pembelian mencapai ssekitar 220 juta dolar AS, biaya tersebut mencakup pembangunan, asuransi dan peluncuran satelit yang ditargetkan sebelum Juli 2020.
Pemilihan produsen satelit asal China dilakukan berdasarkan proses lelang dengan tiga kriteria, yakni teknis, waktu dan harga.
PSNS nantinya akan melakukan pengadaan dan pengoperasian satelit Palapa-N1 sebagai pengganti Palapa-D.
CEO Pasifik Satelit Nusantara Adi Rahman Adiwoso dalam kesempatan yang sama, berharap kerja sama tersebut mampu memecahkan masalah kesenjangan digital yang ada di masyarakat.
"Sekaligus mempercepat penetrasi akses internet ke seluruh wilayah Indonesia," ujarnya.
Menkominfo Rudiantara menyambut positif penandatanganan kontrak pembelian satelit Palapa-N1 karena menjadi salah satu cara untuk membangun infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.
"Dengan ditandatangani ini, ada security. Bisnis satelit itu bukan bisnis yang kita ngomong sekarang, besok keluar. Kalau ingin satelit ada di atas Indonesia butuh waktu tujuh sampai delapan tahun."
"Bangun satu satelit sendiri butuh 30-36 bulan. Maka sekarang guyur dulu Indonesia dengan infrastruktur, nanti permintaan akan tumbuh sendiri," pungkasnya.
Pesawat tempur Su-35 [Militaryphotos] ★
Pemerintah Rusia tertarik dengan produk karet asal Indonesia. Minat tersebut diutarakan Rusia menanggapi kebijakan Pemerintah Indonesia dalam mengimplementasikan imbal beli dengan negara produsen senjata.
Direktur Jenderal (Dirjen) Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemdag) Oke Nurwan bilang, produk karet yang diminati itu adalah crumb rubber alias karet remah. “Mereka tertarik di crumb rubber. Tapi belum kami putuskan,” kata Oke, akhir pekan lalu.
Komoditas karet menjadi salah satu yang tengah dikaji oleh pemerintah untuk imbal dagang dengan produk senjata Rusia. Menurut Oke, payung hukum dari jenis produk yang disepakati dengan mekanisme imbal dagang akan dibuat dalam bentuk Peraturan Menteri (Permen).
Dengan Rusia, produk yang diinginkan oleh Pemerintah Indonesia adalah pesawat tempur Sukhoi. Adapun nilai imbal dagang yang akan dilakukan dengan Rusia sekitar US$ 600 juta.
Atas kebijakan imbal dagang ini, Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO) merespon positif. Mereka berharap dengan skema imbal datang ini, maka akan terjadi perluasan pasar sehingga harga karet akan kembali melar setidaknya mencapai US$ 6 per kilogram (kg).
Sebab dalam tiga tahun terakhir harga karet dunia terus anjlok. “Bila harga karet naik, maka petani karet kecil juga akan untung lantaran harganya terangkat,” kata Dewan Penasehat GAPKINDO Asril Sutan Amir.
Seperti diketahui, sejak akhir kuartal I lalu, petani karet gigit jari lantaran harganya anjlok. Harga karet ditingkat petani dihargai Rp 6.000 per kg atau turun 40% dibandingkan awal tahun yang berada di kisaran Rp 10.000 per kg. Ketua Umum Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Lukman Zakaria bilang, penurunan harga karet tersebut terjadi sejak bulan Maret lalu. “Sudah turun banyak (harga), tinggal Rp 6.000 per kg di tingkat petani,” kata Lukman.
Menurunnya harga jual karet petani ini, menurut Lukman, disebabkan karena permintaan dunia yang menurun. Biasanya kontrak baru pembelian karet dilakukan setiap awal tahun. Hal ini yang cukup mempengaruhi harga beli karet ditingkat petani.
Meski tidak merinci, Lukman bilang, dengan banyaknya kontrak baru di awal tahun, maka saat ini stok karet di gudang-gudang konsumen karet dan eksportir masih penuh. “Awal tahun kemarin banyak kontrak baru pemesanan. Jadinya gudang mereka penuh, sehingga harga karet turun,” katanya.
Produk Bernilai Tambah
Implementasi imbal dagang diharapkan mampu memberi dampak positif bagi Indonesia. Selain karet, pemerintah Indonesia berharap terhadap produk-produk lain yang bernilai tambah, contohnya dengan imbal dagang perlengkapan baju militer dengan persenjataan dari Rusia.
Sekadar catatan, implementasi kebijakan imbal dagang tertuang dalam UU Nomor 16 tahun 2012 tentang industri Pertahanan. Jenis alutsista yang dapat diimplementasikan dengan kebijakan ini disesuaikan dengan kebutuhan dan tidak terbatas pada produk tertentu.
Terkait kebijakan imbal beli ini, Kemdag juga telah meluncurkan aturan turunnya yakni Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.44/M-Dag/Per/2016 tentang Ketentuan Imbal Beli Pengadaan Barang Pemerintah Asal Impor.
Beleid ini mengatur pengadaan barang pemerintah yang berasal dari impor dengan nilai tertentu, dan atau berdasarakan peraturan perundang-undangan wajib dilaksanakan melalui imbal beli. Jenis dan nilai barang untuk pengadaan barang pemerintah serta prosentase kewajiban imbal beli ditentukan oleh tim yang dibentuk oleh menteri.
Dalam aturan itu juga disebutkan, barang ekspor Indonesia untuk pemenuhan kewajiban imbal beli hanya komoditi non migas. Perusahaan pemasok atau perusahaan pihak ketiga yang tidak merealisasikan ekspor untuk memenuhi kewajiban imbal hasil dikenakan sanksi kewajiban untuk membayar denda sebesar 50% dari nilai kewajiban imbal beli pengadaan barang pemerintah asal impor.
Satelit LAPAN [Viva] ★
Tidak bisa dipungkiri, Indonesia adalah negara di Asia Tenggara yang paling maju dalam bidang penerbangan dan antariksa. Hal tersebut praktis mengundang beberapa negara tetangga yang tertarik bekerja sama dalam bidang ini.
Setelah beberapa waktu yang lalu, Jawatan Perikanan Malaysia berkunjung ke LAPAN untuk berdialog dengan peneliti LAPAN mengenai Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI), selanjutnya pada Senin (08/05) Norilmi Amalia dan tim berkunjung ke Pusat Teknologi Satelit (Pusteksat) LAPAN di Bogor.
Norilmi Amalia adalah seorang dosen dari Universiti Sains Malaysia (USM) yang juga sebagai Kepala Proyek MYSat – Malaysia. Kedatangan Norilmi dan tim disambut oleh Kepala Bidang Diseminasi Pusteksat, Iwan Faizal didampingi tim Surya Satellite dari Surya University.
LAPAN mempresentasikan mengenai satelit LAPAN-A1/ TUBSat, LAPAN-A2/ Orari, LAPAN-A3/ IPB yang telah diluncurkan dan perkembangan satelit LAPAN-A4 dan A-5. Lalu, tim Surya Satellite mempresentasikan perkembangan satelit mereka yaitu Surya Satellite 1 (SS1) yang sedang mereka kerjakan di bawah bimbingan peneliti Pusteksat. Tim USM juga menjelaskan kondisi perkembangan teknologi khususnya mengenai satelit di negara Malaysia.
Acara dilanjutkan dengan kunjungan ke berbagai fasilitas Pusteksat. Mereka mengunjungi ruang Assembly, Integration and Test (AIT) dilanjutkan menuju Ground Station Pusteksat sebuah ruangan untuk memonitor satelit. Saat berada di ruang monitoring satelit tersebut, tim USM dijelaskan tentang monitoring satelit dan diperlihatkan sampel data yang berhasil diperoleh satelit LAPAN. Kunjungan dilanjutkan demo pertunjukan SS1 dari Surya Satellite, khususnya tentang cara kerja satelit tersebut. Selanjutnya acara diakhiri dengan tukar-menukar cinderamata dan foto bersama.
Prototipe SSX [supermarine] ★
PT Pindad terus berinovasi dan menggenjot produk andalannya untuk memperluas ekspansi bisnis pertahanan. Direktur Utama PT Pindad, Abraham Mose mengatakan, target capaian Pindad pada 2017 hingga Rp 3,9 triliun. Dengan target yang cukup besar tersebut, perusahaan yang ia pimpin terus meningkatkan kualitas dan kemampuan produksi, terutama untuk produk andalan yang diminati konsumen.
Pria kelahiran Gorontalo, 27 Juli 1961 ini menuturkan, sesuai arahan Presiden Joko Widodo, Pindad akan melebarkan sayap bisnisnya ke luar negeri. Menurut dia, permintaan asing terhadap senjata dan kendaraan buatan Pindad terus meningkat. Selain alat utama sistem persenjataan (alutsista), Pindad juga memproduksi non-alutsista seperti eskavator, traktor, dan sejumlah produk nonalutsista lain.
Kepada VIVA.co.id, mantan dirut LEN ini mengatakan, sebagian besar produk Pindad digunakan oleh TNI. Menurut dia, sekitar 70 persen produk Pindad untuk memenuhi kebutuhan TNI. Sementara itu, sisanya merupakan pesanan asing atau untuk kebutuhan ekspor.
Namun, lulusan Magister Manajemen Universitas Padjadjaran, Bandung, ini mengaku masih mengalami sejumlah kendala terkait ekspansi bisnis. Salah satunya karena tidak adanya industri hulu. Juga regulasi yang dinilai masih menghambat ekspansi bisnis perusahaan ini ke luar negeri.
G2 Premium PT Pindad [Pindad]
Untuk memperdalam kiprah Pindad itu, VIVA.co.id berkesempatan mewawancarai Abraham Mose. Wawancara dilakukan di ruang kerja pria jebolan Teknik Elektro Universitas Hasanuddin, Makassar ini di kompleks Pindad, Bandung. Berikut petikannya:
Sejak Agustus 2016 Anda ditunjuk menjadi dirut Pindad. Apa pendapat Anda dengan perusahaan ini?
Menurut saya potensi Pindad sangat besar.
Maksudnya?
Kalau kita bicara industri pertahanan, apakah senjata, pistol, amunisi, sampai ke produk-produk industrial dan kemampuan sumber daya manusia serta kemampuan mesin yang dimiliki Pindad itu sangat mumpuni.
Terkait alutsista, apa saja yang sudah dihasilkan?
Saya masuk Pindad, sudah ada tujuh varian produk senjata yang dihasilkan, mulai dari pistol, G2 combat. Kemudian submesin gun, SS2 V7 juga ada sniper. Menurut saya ini produk-produk unggulan Pindad dan permintaan sudah cukup banyak.
Permintaan?
Iya. Permintaan bukan hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri.
Dopper PT Pindad [Angkasa]
Apakah ada produk baru?
Tahun ini kami akan launching produk yang sudah cukup lama. Dari tahun kemarin kami lakukan penelitian dan pengembangan yaitu senapan serbu bawah air dan Dopper untuk latihan. Selain itu untuk program nasional kita sebut saja medium tank.
Medium tank?
Iya. Dan ini yang pertama sekali, Indonesia membuat tank yang utuh dan itu dilakukan di Pindad.
Kapan akan diluncurkan?
Rencananya akan kami tampilkan pada acara parade 5 Oktober nanti HUT TNI.
Selain itu?
Kami juga punya produk baru anti ranjau yang disebut sanca. Itu hasil kerja sama dengan luar negeri. Kemudian kami juga punya satu produk unggulan yang kami sebut tank boat. Tank boat ini bisa kami pakai untuk menjaga perairan-perairan atau sungai di Indonesia.
Apa kelebihan tank boat ini?
Dia bisa bermanuver di kedalaman 90 sentimeter dan kami lengkapi dengan senjata.
Selain medium tank dan tank boat?
Kami sudah punya Badak, kami punya Ampibius Anoa yang kemarin dalam rapim TNI, Bapak Presiden menyempatkan naik bersama panglima TNI.
Medium tank, Anoa dan kendaraan taktis lainnya semuanya hasil karya anak bangsa?
Iya, hasil karya anak bangsa, termasuk Komodo juga.
Tidak ada yang kerja sama dengan luar negeri?
Awalnya ada beberapa yang kerja sama dengan luar negeri, tetapi sekarang kami sudah bisa membuat sendiri.
Produk Pindad hanya untuk konsumsi dalam negeri atau untuk ekspor juga?
Saat ini kami persiapkan minimum essential force yang diperlukan dalam negeri. Tetapi bukan berarti kami menutup dari permintaan-permintaan luar negeri atau ekspor ke negara lain.
Excavator Pindad [Pindad]
Artinya ada yang diekspor?
Ada. Misalnya permintaan Anoa Gurun dari salah satu negara di Timur Tengah yang sekarang masih dalam tahap negosiasi. Begitu juga dengan amunisi, dengan senjata kami masih dalam tahapan-tahapan negosiasi.
Berapa persen produk Pindad yang diekspor?
Posisi sekarang masih 80-20 persen. Tetapi tahun ini meningkat menjadi 70-30 persen. 70 persen untuk kebutuhan dalam negeri, 30 persennya kami coba ekspor.
Diekspor ke negara mana saja?
Kalau bicara militer kami tidak bisa buka-bukaan semuanya. Karena agak sensitif kalau negara-negara itu kami sebut.
Produk apa saja yang diekspor?
Amunisi, kemudian senjata, pistol, dan bom, termasuk panser.
Pemerintah meminta Pindad untuk melakukan inovasi. Tanggapan Anda?
Arahan Bapak Wapres waktu saya diundang, beliau memang meminta agar kami melakukan ekspansi bisnis.
Lalu, apa tindak lanjut dari arahan Wapres?
Melakukan joint operation. Sudah beberapa penawaran, bahkan sudah ada beberapa agreement partnership yang sudah kami teken, dan sekarang masuk ke dalam tahapan implementation agreement, untuk membuat amunisi kaliber 556 dan kaliber 762 MM, MKB mulai dari 20, 30, 105, 155. Selain itu, akan ada investor untuk ikut membangun fasilitas produksi amunisi kaliber kecil kami dan amunisi kaliber besar.
Apakah kerja sama dengan luar negeri dibolehkan?
Di Undang Undang Industri Pertahanan, kami belum boleh melakukan joint venture. Tetapi kalau joint marketing, joint production itu bisa. Ini salah satu strategi kami untuk melakukan strategic partnership guna mengimplementasikan arahan dari Bapak Presiden dan Bapak Wapres untuk menjual produk-produk pertahanan yang diproduksi PT Pindad.
Negara atau lembaga apa saja yang menjalin kerja sama dengan Pindad?
Selama ini kami masih G to G ya, tidak antarlembaga. Jadi kerja sama negara, semuanya negara.
Kerjasama PT Pindad dan Tata Motors [defence.pk]
Kerja sama dengan Tata Motors termasuk G to G?
Tata Motors itu bermula pada kunjungan Bapak Presiden ke India beberapa waktu lalu, ini kami follow up. Kebetulan saya ikut dalam rombongan tersebut, bagaimana kami bisa menjalin kerja sama dengan India. Nah, PT Pindad bekerja sama dengan Tata Motors, ada dua hal yang kami bahas dan lakukan penandatanganan MoU bersama mereka, salah satunya adalah kendaraan komersial dan kendaraan militer.
Kendaraan komersial?
Kendaraan komersial menarik bagi Pindad, karena ternyata sasisnya sama. Mau dipakai di militer, mau dipakai di komersial itu sama, sehingga kami bisa melakukan efisiensi di sisi waktu dan harga. Di komersial kami akan coba masuk di kendaraan truk pengangkut personel. Kemudian kami akan masuk di kendaraan water cannon dengan menggunakan teknologi dari mereka. Jadi itu G to G, hanya saja implementasinya antara PT Pindad dan Tata Motors.
Selain India apakah ada kerja sama dengan negara lain?
Ada kerja sama pengembangan dan ada kerja sama penjualan. Selain dengan India ada juga dengan beberapa negara Timur Tengah. Kemudian negara-negara Asia yang sudah berjalan. Bahkan, ada sejumlah negara baru yang mencoba bekerja sama penjualan, kerja sama produksi, bahkan ikut investasi.
Selain alutsista, Pindad juga memproduksi nonalutsista, bagaimana perkembangannya?
Pindad ini ada dua direktorat, satu Direktorat Bisnis Militer dan Direktorat Industrial. Bisnis di industrial itu ada cor dan tempa untuk peralatan-peralatan rel kereta api, kemudian untuk divisi Marine di pelabuhan atau kapal kami buat crane, dan alat support kapal lainnya. Kemudian ada bahan peledak juga, tetapi untuk komersial yang kami jual untuk digunakan di lahan tambang, kemudian ada alat berat, eskavator. Kami juga memproduksi alat-alat pertanian juga. Itu semua yang non-military.
Apakah itu semua juga diekspor?
Itu semuanya sekarang masih untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Mulai dari eskavator, traktor, traktor tangan. Kemudian marine itu banyak sekali galangan-galangan kapal yang bekerja sama dengan Pindad. Kereta api yang breaking system itu dari Pindad.
Saat ini lebih banyak mana, yang produk militer atau nonmiliter?
Kalau sekarang masih 70 persen military, 30 persen yang industrial. Tetapi ke depan visi kami adalah melakukan juga penajaman di sisi industrial.
Kenapa?
Karena yang diukur dalam pendapatan di BUMN itu kan minimum pertumbuhan pendapatan 12 persen. Jadi kami memang harus naik pendapatan per tahunnya. Nah, itu dari sisi mana? Sisi military dan maupun dari sisi industrial pastinya. Sehingga tagline Pindad ke depan bagaimana kami bicara membangun incorporated yang unggul. Itu kami sudah bicara Pindad baik dari segi produksi industrial maupun military.
Kendaraan militer Pindad [Pindad]
Sejumlah kalangan mengatakan industri pertahanan kita telat. Tanggapan Anda?
Industri pertahanan tidak bisa berbuat banyak kalau kita tidak didukung dengan industri hulu. Bagaimana mengubah raw material itu menjadi komponen jadi yang siap mendukung industri, misalnya pelat baja, pelat besi, kemudian bahan pendukung pembuat amunisi, itu kan semuanya kita masih impor.
Ini yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh pemerintah, yakni kebijakan untuk membangun industri hulu di Indonesia. Sehingga komponen-komponen siap pakai untuk mendukung industri itu bisa dipakai atau gunakan sendiri, sehingga tidak perlu impor.
Kenapa?
Kalau kami impor, butuh waktu sekitar enam bulan sampai delapan bulan. Kalau kontrak kami cuma satu tahun, kami cuma mempunyai waktu untuk kerja itu cuma dua bulan. Jadi bagaimana bisa memenuhi kontrak dalam setahun? Solusinya apa kalau kita tidak punya industri hulu? Artinya kita harus membuat kontrak multiyears, dua tahun atau tiga tahun. Dan kontrak multiyears juga harus membutuhkan jaminan dari pemerintah untuk membeli produk kami.
Solusinya?
Ada yang namanya Komite Kebijakan Industri Pertahanan yang sudah sangat jelas kebijakannya. Pertama kalau produk-produk itu belum sanggup dibuat di dalam negeri, atau menjadi sangat urgent untuk diadakan di dalam negeri, maka tentunya itu pembelian dari luar. Tapi kalau sudah sanggup diproduksi dari dalam negeri, wajib menggunakan produk dalam negeri.
Bagaimana kalau belum sanggup diproduksi di dalam negeri?
Joint operation atau apa pun bentuk kerja samanya harus ada transfer knowledge agar industri dalam negeri bisa memproduksi peralatan sendiri.
Selain tidak adanya industri hulu apa lagi yang menjadi kendala?
Kalau bicara kemandirian kita harus berbicara sumber daya. Sumber daya manusia, dan sumber daya ketersediaan infrastruktur kita sudah punya. Kemampuan SDM, engineering kita sudah tidak diragukan lagi. Sekolahnya juga banyak lulusan dari luar. Sudah terbukti kita bisa membuat pistol yang 11 kali juara dunia, bisa bikin Panser, bikin Panser Ampibius.
Tetapi sekarang bagaimana kita bisa menjual produk-produk ini. Selama undang-undang industri pertahanan kita masih sangat rigit, tidak memperbolehkan kita melakukan join venture dengan negara-negara lain akan sulit.
Kaplan MT [FNSS]
Artinya selama ini ekspansi pasar terkendala regulasi?
Ya. Salah satunya adalah regulasi itu, undang-undang industri pertahanan.
Selain regulasi, apa lagi yang jadi kendala Pindad dalam melakukan ekspansi pasar?
Kita tidak memiliki industri hulu.
Apakah ada target pendapatan?
Kebijakan Kementerian BUMN kami harus tumbuh minimum pendapatan di atas 12 persen tahun ini.
Bagaimana cara Anda mencapai target itu?
Kalau kami terlalu mengandalkan industri pertahanan tentunya ada keterbatasan untuk mencapainya. Sayang dengan mesin yang ada, kemampuan sumber daya manusia yang kami punya, kalau terjadi idol capacity. Sehingga kami buat produk-produk industrial. Ini adalah strategi kami supaya perusahaan secara korporasi bisa tumbuh pendapatannya.
Apa target Anda selama memimpin Pindad?
Kalau bicara Pindad goal, utamanya adalah bagaimana bisa menjadi partner pemerintah. Kalau konteks Pindad ini salah satu contohnya adalah bagaimana menjadi tulang punggung di industri pertahanan. Visi utamanya adalah bagaimana Pindad bisa memenuhi kebutuhan pertahanan dalam negeri.
Apa harapan Anda kepada pemerintah?
Saya pikir tinggal masalah konsistensi. Karena kalau kami melihat arahan pimpinan tertinggi kita Bapak Presiden, Bapak Wapres, panglima TNI, sudah sangat kuat untuk memajukan industri pertahanan dalam negeri. Tinggal konsistensi saja. Kalau konsistensi itu kami bicara semuanya, ya keuangan dan kebijakan.
Bahas Kerja Sama Iptek
Presiden dan Ibu Iriana Joko Widodo tiba di Beijing. (Humas Setkab/Deni) ●
Presiden Joko Widodo telah melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden (Rektor) Universitas Tsinghua, Qiu Yong, Tiongkok di Hotel Conrad pada Minggu (14/5) membahas kerja sama bidang iptek.
Jokowi dalam pertemuan tersebut didampingi oleh Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, serta Dubes RI untuk RRT merangkap Mongolia Soegeng Rahardjo.
Dalam pertemuan yang dilakukan di salah satu ruang di Hotel Conrad itu, dibahas mengenai penguatan kerja sama di bidang teknologi dan pendidikan kewirausahaan.
"Tsinghua University sangat dikenal di Indonesia sebagai salah satu universitas terbaik di bidang teknologi dan kampus yang melahirkan banyak pemimpin nasional di Tiongkok " kata Jokowi saat berdiskusi dengan Yong.
Dalam kunjungan tersebut, Qiu Yong didampingi antara lain oleh Dekan Bidang Internasional Li Jinliang, serta anggota Dewan Universitas Institut Filantropis Tsinghua Lin Meijin.
Kepala Negara juga memuji penandatanganan nota kesepahaman atau letter of intent Kementerian Perindustrian dengan Universitas Tsinghua tentang Pemberdayaan Masyarakat bagi inovasi dan kepemimpinan Kewirausahaan bagi Industri.
"Saya juga harapkan rencana pendirian Pusat Inovasi Tsinghua South East Asia Center dan kerja sama Kemperin-Tsinghua dapat segera direalisasikan," kata Presiden.
Pendirian pusat penelitian nantinya dapat memberikan sumbangan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia Indonesia di bidang perindustrian dan menciptakan tenaga kerja terlatih.
Jokowi juga menjelaskan tentang semangat pemerintah Indonesia saat ini yang giat bekerja seperti tulisan dalam prasasti di depan grand auditorium Facta, Non Verba yang berarti "Kerja bukan Kata-kata".
"Ini juga merupakan semangat dari pemerintahan yang saya pimpin, selalu bekerja demi bangsa dan negara," kata Jokowi.
✬ Demi NKRI
Muhammad Munip, Nahkoda Kapal Perang Ekspor Kedua Filipina. [Antara Jatim] ✮
Tak melihat nilai nominal materi yang ditawarkan kepada dirinya, dan hanya ingin memiliki rasa kebanggaan terhadap karya anak bangsa, Kapten Munip menerima tawaran menjadi nakhoda ekspor kedua kapal perang ke Manila, Filipina, buatan PT PAL Indonesia.
Keinginan pria kelahiran Bangkalan, Madura, 13 Juli 1978, menjadi nakhoda kapal perang ekspor kedua itu hanya satu, ingin menunjukkan baktinya sebagai anak bangsa dengan turut berpartisipasi memegang kendali kapal perang saat dikirim ke negeri seberang.
Tentunya keinginan itu membawa risiko bagi suami Umi Nuraini ini, dia harus menolak beberapa kontrak dan tawaran menakhodai kapal niaga yang memiliki nilai tawaran materi yang lebih tinggi dari pihak swasta.
Namun demikian, itu sudah menjadi keputusan dan tekad bapak tiga anak ini untuk turut mengantarkan kapal perang eskpor kedua dengan menjadi kapten kapal.
Pria dengan catatan berlayar puluhan kali ke beberapa negara tersebut mengaku, selain memiliki rasa bangga, pemilik nama lengkap Muhammad Munip ini juga ingin mempunyai pengalaman dalam memegang kendali kapal perang.
“Ini adalah pengalaman pertama saya menakhodai kapal perang, selain bangga dengan produk dalam negeri, saya juga mendapatkan ilmu dan teman-teman baru di anjungan kapal,” kata ayah dari Ayyesa Abiyu Munif ini.
Munip mengatakan, secara umum memegang kendali kapal perang dan kapal niaga tidak beda jauh dengan kapal-kapal lainnya, namun ada nilai tambah yang memotivasi dirinya ingin menjadi nakhoda kapal perang pada ekspor kedua kali ini.
Apalagi, kata dia, kapal perang yang dinakhodainya kali ini adalah hasil buatan anak negeri dan merupakan pelayaran bersejarah bagi bangsa Indonesia.
“Hal itulah yang membuat saya mau mengambil tawaran dari PT PAL Indonesia untuk menakhodai pengiriman atau ekspor kapal perang kedua ke Filipina,” kata Munip yang mempunyai sertifikat pelayaran golongan tinggi ANT I atau kelas 1.
Tawaran itu, kata dia mulai diterima saat kapal perang jenis “Strategic Sealift Vessel” (SSV) melakukan uji coba hingga selesai pengiriman atau ekspor ke Filipina.
Dalam prosesnya, Munip mengaku kagum dengan produk PT PAL Indonesia, karena selama memegang kendali kapal yang telah diberinama negara pemesan Davao Del Sur itu teknologinya sangat tinggi di kelasnya, dengan stabilitas kapal yang teruji, meski menghadapi ombak mencapai 2 meter hingga 3 meter.
“Selama menakhodai, mulai dari “frist sea trial” pada Februari, Maret dan April 2017, kapal ini adalah “hitech vessel” dan saya kagum karena buatan dalam negeri,” katanya.
Kebanggaan bercampur kekaguman itulah, kata Munip, yang tidak bisa ditukar dengan tawaran materi tinggi saat memegang kendali kapal perang ekspor kedua PT PAL Indonesia.
Produk Dalam Negeri
SSV BRP Davao del Sur LD 602 [rappler]
Munip mengaku, produk dalam negeri khusus kapal sudah sangat layak disandingkan dengan beberapa produk sejenis buatan negara unggulan, seperti Korea Selatan, Belanda dan Jerman.
Dari catatannya selama memegang 21 kapal berteknologi tinggi buatan beberapa negara, Munip mengapresiasi produk buatan PT PAL Indonesia, karena secara sistem dan teknologi sudah sangat layak.
Sehingga, pria dengan catatan 20 lebih sertifikat pelayaran ini mengaku tidak salah apabila Filipina mengakui produk PT PAL Indonesia bagus dan memiliki keandalan dalam bidang teknologi perkapalan.
“Kapal SSV-2 pernah dihajar ombak sampai oleng, dan airnya hingga sampai ke anjungan saat percobaan keandalan di Perairan Bawean, namun bisa kembali ke posisi semula dengan kestabilan cukup bagus,” katanya.
Selain itu, saat melakukan manuver dengan segala kondisi, kapal yang memiliki panjang 123 meter dan lebar 21 meter itu juga mampu kembali stabil seperti semula.
Sebelumnya, Pejabat Pelatihan Anak Buah Kapal (ABK) Filipina Bonifacio Manzano juga mengaku secara umum operasional mesin kapal sangat bagus dan layak, sehingga tidak mengalami kendala berarti selama perjalanan kapal dari Surabaya ke Manila.
“Secara umum tidak ada masalah untuk mesin kapal selama perjalanan, dan saya rasa sangat bagus mesin dan perjalanan ini,” kata Manzano yang juga Palaksa Kapal BRP Davao Del Sur LD 602.
Spesifikasi dua kapal perang SSV buatan PT PAL Indonesia yang dikirim ke Filipina memiliki daya tampung 621 penumpang, serta mampu bertahan di lautan selama 30 hari dengan bobot maksimal 7.200 Ton.
Kapal memiliki kecepatan 16 knots dengan mesin pendorong 2 X 2,920 kW, dan mampu menampung tank, kendaraan tempur, mobil rumah sakit, hingga kapal patroli dan transporter, dan merupakan kapal hasil inovasi dari produksi kapal alih teknologi dengan Korea Selatan.